You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Washington Square (Henry James)

Washington Square (Henry James)

isyana — July 19, 2008 / 7:42 am

“What is this, a Henry James novel? The young lady acts up, and her family ships her off to Europe?” (Rory Gilmore)

“TO paraphrase Henry James: It’s a complex fate, being an American girl.” (AO Scott, kritikus NY Times menulis resensi film American Girl)

Coba tentukan, mana yang lebih ‘buruk’. Dokter Austin Sloper adalah seorang pria yang, digambarkan, hampir sempurna. Cerdas, rasional, tak kurang apa pun dari segi fisik. Dan tinggal di kalangan sosialita New York yang menjadi kaya dengan warisan atau dengan ilusi bahwa mereka bekerja, Dokter Sloper punya profesi idaman. Ia masih bekerja untuk penghasilannya, tapi pekerjaannya dianggap cukup ‘terhormat’ (dalam artian tidak terlalu kasar, karena melibatkan pikirannya) oleh kalangan sosialita New York.

Dalam dunia yang pernikahannya diatur oleh uang dan koneksi, ia bertemu keseimbangannya dari segi kesempurnaan, seorang Miss Catherine Harrington. Yang cantik, luwes, rasional, dan…punya uang.

Mereka menikah atas dasar sesuatu yang paling mirip dengan cinta, punya anak lelaki yang juga sempurna dan bisa jadi penerus sang ayah. Sayangnya, si anak laki-laki meninggal dan, setelah melahirkan anak keduanya, si ibu juga meninggal.

Tidak, tidak, tidak.

Jangan salah sangka, ini bukan spoiler. Ini justru awal.

Anak keduanya, secara ironis, diberi nama sama dengan ibunya, Catherine. Catherine Sloper adalah sosok yang…sehat. Tapi di mata ayahnya, dia tak memiliki keanggunan dan kecantikan ibunya, atau kepintarannya. Juga keluwesan. Bagi Dokter Sloper, Catherine is dull.

Jadi, mana yang lebih ‘buruk’?

Seorang ayah dengan segala kesempurnaannya diberi anak yang sangat berbeda darinya dan istrinya? Atau seorang anak yang selalu dianggap remeh keberadaannya (dan segala tindakannya) oleh ayahnya?

Catherine, dengan warisan 10 ribu dollar dari ibunya dan 30 ribu dollar dari ayahnya, punya status sebagai seorang heiress (Ada masanya ‘heiress’ tak selalu berarti Paris Hilton. Ini adalah New York pada tahun 1840-1850an).

Ketika Catherine sudah digambarkan dalam ‘ketidaksempurnaan’ itu (tapi memiliki kesempurnaan dari segi finansial) dan datanglah seorang Morris Townsend (He had features like young men in pictures; Catherine had never seen such features–so delicate, so chiselled and finished–among the young New Yorkers whom she passed in the streets and met at dancing-parties) tanpa pekerjaan jelas, maka ayah Catherine diarahkan untuk berpikir bahwa niatan Townsend adalah uang.

Dan Henry James juga tak membuat keadaan jadi lebih baik. Pertemuan-pertemuan Townsend dan Catherine hanya didominasi dengan cerita-cerita Townsend dan Catherine yang hanya mampu diam mendengarkan.

Jadi, sebenarnya, mungkin ‘vonis’ Dokter Sloper tentang anaknya (dan tentang Morris Townsend) benar. Tapi bukankah itu berarti, sebagai pembaca, kita berlaku sama tidak adilnya terhadap Catherine? Sama seperti yang dilakukan Dokter Sloper?

Yang menurutku paling menarik dari Washington Square adalah perpindahan sudut pandang yang dilakukan James secara halus. Pada awalnya semua dilihat dari sudut pandang Dokter Sloper dengan ketajaman ironinya. Aku jadi ikut menilai Catherine dari mata ayahnya. Tapi kemudian, lama-lama, Catherine mulai diberi suara.

Dan benar, ia memang tak pernah melakukan sesuatu yang istimewa atau memikirkan sesuatu yang cerdas. Tapi juga tidak ada yang ’salah’ dengan itu. She being who she is.

Washington Square, karena ketipisannya mungkin, adalah Henry James pertama yang aku selesaikan. Beberapa tahun lalu, aku pernah mulai membaca The Portraif of a Lady sampai akhirnya berhenti di tengah-tengah. Dari situ, aku jad ber-oh ya, ya, pada ‘potret-potret’ yang dibuat James tentang menjadi seorang gadis Amerika. Di The Portrait, adalah Isabel Archer, juga seorang gadis Amerika dengan warisan uang, yang mencoba menemukan dirinya sendiri.

Dan ya, ya, konsep an American in Europe (dan mungkin semua disorientasi yang timbul karenanya) juga merupakan tema yang muncul berulang di dua novel itu.

Tapi ini, jika Henry James adalah pemeta atau pencatat fase kehidupan dan perilaku gadis-gadis Amerika, siapa ya yang menjalankan peran itu buat gadis-gadis Indonesia? Atau kompleksitas takdir menjadi seorang gadis itu tak memiliki batas geografis?

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • dedik — ikut..dong walau gaak menang
  • sayyid — ---UNTUK BUNG HUDAN, Blog ini bukan kepunyaan personal. Tapi, punyanya Asia Blogging Network. Yang mengelola saya sendiri. Salam kenal...
  • Herman Suryadi, S.Pd. — Bung Hudan Hidayat Aku lagi nyusun riwayat penyair - sastrawan kelahiran Bengkulu kotaku. Aku minta dikirimkan biodata/riwayat lengkap anda + ...
  • zulhaiban — iya ya, kenapa wartawan tidak mencantumkan gelarnya disusunan redaksi maupun ID Card wartawannya. Mungkin wartawan tidak ingin diketahui latarbelakangnya kali, ...
  • Sayyid fahmi alathas — Menanggapi buku esai nabi tanpa wahyu hudan hidayat. ...
  • hudan hidayat — iya isyana kamu di multiply juga ya? rame di sana kan. sastra memang untuk siapa saja tak ada patokan. maaf aku ...
  • DARIATI — mau donk ikutan LoMba, waLaupun Tidak Lesbian.... sTidaknYa kita berPartisipaSi sMa Tmen2 YaNg PuNya kElaiNan Seksual......
  • yuliana — houwwww, Q tertarik.... 1 hal Q tny.... yg m'adakan adl skul tinggi agama islam, bleh kah non-i juga ikut?
  • yulyanto — Mba ‘Is, Aku mohon ijin tautkan link URL-nya Mba ini ke blog saya (www.yulyanto.com) yach ????….. Tx-alotz
  • Sayyid fahmi alathas — Seni dalam kaijan ilmiah karya sastra ...