You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: The Secret History (Donna Tartt)
Ada sesuatu yang menarik dari dinamika sebuah kelompok pertemanan. Karakter yang berbeda-beda, interaksi dan konflik yang terjadi di dalam lingkaran pertemanan itu, ‘kekuatan’ atau kesan yang dimunculkan kelompok itu pada lingkungan di sekitarnya, adalah beberapa dari ‘sesuatu’ itu.
Tapi mungkin yang paling menarik adalah cerita tentang usaha seorang tokoh untuk tergabung dalam sebuah kelompok. Untuk diterima, untuk mengasosiasikan identitas dirinya dengan kelompok itu. Dari Mean Girls sampai Gossip Girl sampai The Great Gatsby penuh dengan tema ‘besar’ itu.
Ada sebuah kutipan yang aku lupa asalnya dari mana atau siapa. Bahwa teman adalah keluarga yang kamu pilih.
Sepertinya itu yang ada di kepala Richard Papen.
Yang ia cari adalah kecantikan, keanggunan, kehidupan yang elegan dan intelektualitas. Hidupnya di kota kecil suburban bernama Plano, California bukanlah sesuatu yang ia identifikasikan dengan semua yang indah itu.
Jadi dia memutuskan untuk pindah ke sebuah kampus swasta kecil di Vermont. Kampus yang ia bayangkan sebagai alat mencapai dunia yang berbudaya itu. Lalu ada the inner circle. Kelompok kelas Yunani Kuno, terdiri dari lima mahasiswa terpilih, masing-masing datang dari latar belakang yang bergelimang uang dan sangat familiar dengan ‘keindahan-keindahan’ yang diinginkan Richard.
Dan Richard mencoba segala cara untuk bergabung dengan mereka. Untuk menjadi salah satu dari mereka. Bahkan ketika usaha itu berarti melakukan tindak kriminal.
Bukunya adalah ‘The Secret History’ dari Donna Tartt. Diterbitkan pertama kali pada 1992 dan ditemukan di salah satu tumpukan toko buku bekas Pasar Festival. Sekitar 2002, aku pernah menonton rekaman wawancara televisi dengan Donna Tartt tentang penerbitan buku terbarunya ‘The Little Friend’.
Aku sudah tidak ingat lagi apa saja yang ia katakan, tapi yang aku ingat adalah pertanyaan: Siapa dia? Kenapa dia? Apa yang sudah ia lakukan?
Ternyata dia tipe penulis yang butuh waktu lama (satu dekade) untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Agak-agak seperti Jeffrey Eugenides (The Virgin Suicide (1994), Middlesex (2002)). Tartt terkenal karena kedekatannya dengan Bret Easton Ellis, penulis American Pyscho dan Glamorama yang ‘besar’ pada dekade 1990an.
Terlepas dari tempelan-tempelan itu, Tartt adalah penulis yang matang. Dunia yang dibangunnya ‘lengkap’. Tidak besar atau liar, tapi mencukupi, tanpa harus muncul kesan kurang atau berlebih.
Adegan-adegannya dan deskripsi-deskripsinya efektif.
Tahu kan bagaimana Zadie Smith misalnya, bisa berbanyak-banyak mendeskripsikan bahasa tubuh atau menceritakan dialog? Atau cara Salinger mengabsen isi lemari di kamar mandi keluarga Glass di Franny and Zooey? Nah Tartt adalah pencerita yang tahu takaran.
Dia efisien, tapi tidak pelit. Rasanya adalah satu buku yang pas. Enak dibaca dengan bahan yang bertekstur.
Yang agak menarik, karena buku ini keluaran 1992, ada banyak cerita tentang penggunaan telepon rumah.
Tidak, tidak mengganggu, hanya tidak terbiasa.
Dan sekarang aku sedang mencari ‘The Little Friend’. Dan oh, mungkin menunggu kapan Tartt akan meluncurkan buku terbarunya.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.