You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Ayam dengan Plum dan Alat Musik Bernama Tar
Gramedia Pustaka Utama menerbitkan satu lagi novel grafis Marjane Satrapi setelah Embroideries (Bordir). Judulnya Chicken with Plums (Ayam dengan Plum). Fokus ceritanya adalah seorang musisi tar (alat musik Iran yang, berdasarkan gambaran Satrapi, bentuknya seperti biola dengan tangkai panjang) yang juga ayah salah satu bibi Satrapi. Tampaknya sumber ide terbesar Satrapi adalah lingkaran keluarganya yang penuh dengan orang-orang jenius dan suka mendobrak nilai-nilai yang berlaku kala itu.
Nama si musisi adalah Nasser Ali Khan. Dan dia bukan sekadar musisi. Sebagai pemain tar, Nasser Ali adalah yang terbaik di Iran. Tapi suatu hari ia memutuskan bergelung di tempat tidur sembari menunggu maut menjemputnya. Pertanyaan besar yang coba dibangun buku ini adalah ‘kenapa’. Kenapa Nasser Ali tiba-tiba memutuskan untuk mati saja?
Lalu Satrapi membawa pembacanya berselang-seling ke masa lalu dan kini. Dari soal kegagalan cinta di masa lalu, pertengkaran Nasser Ali dengan istrinya, rivalitas dengan adiknya, sampai perasaan pada anak-anaknya dan apa yang terjadi pada anak-anak Nasser Ali di masa depan.
Mungkin tidak penting untuk mempertanyakan apa motivasi Satrapi untuk memilih Nasser Ali sebagai subyek, tapi si subyek yang diceritakan bukan orang yang mudah diempatikan oleh pembaca. Setidaknya aku tidak berempati pada ‘penderitaan-penderitaannya’. Dan itu mungkin tidak terlalu penting juga, tapi…tidak ada satu momen pun di Chicken with Plums yang membuat aku tergugah dengan sosok Nasser Ali.
Ibumu lebih sayang pada adikmu daripada denganmu? So? Kamu tidak menikah dengan cinta terbesar dalam hidupmu? Terus kenapa? Anakmu tidak peduli pada apa yang kamu lakukan? Please deh, dia kan baru berapa tahun. Dan itu bukan alasan untuk terus mengasihani diri sendiri dan tidak menyayangi mereka kan? Kamu terjebak dalam pernikahan dengan orang yang tidak kamu cintai? Yah, well, things happens.
Tetapi, bukankah semua orang punya tumpukan masalahnya sendiri-sendiri? (Dan untuk cara yang lebih bijak mengatasi masalah-masalah itu, baca Candide dari Voltaire)
Satrapi sebagai pencerita juga membuat penghakiman yang akut. Terhadap salah satu anak Nasser Ali, Mozaffar, terutama. Mozaffar diceritakan tak punya kemiripan sama sekali dengan ayahnya. Tak pernah murung, tak mengerti seni, tidak kurus. Mozaffar lalu menikah dengan seorang teman kuliahnya dan bermigrasi ke Amerika Serikat. Mereka mewujudkan hidup a la The American Dream dan punya anak-anak yang bermasalah serius dengan berat badan. Lalu Satrapi berkata, “Nasser Ali Khan tidak tahu betapa beruntungnya dia meninggal empat hari kemudian. Andai dia tahu kisah tentang Mozaffar dan putrinya, bisa-bisa dia langsung kena kanker…”
Mungkin, bagi Satrapi, ia hanya mencoba mengidentifikasi reaksi Nasser Ali. Yang terjadi adalah kesan bahwa apa yang terjadi pada keluarga Mozaffar adalah sebuah aib besar. Sepertinya tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan perilaku Nasser Ali pada istri dan anak-anaknya. Bukan sebuah kekerasan fisik sebenarnya, tapi pengabaian. Dan itu juga bisa sangat menyakitkan.
Chicken with Plums buka cerita yang menyenangkan. Nasser Ali Khan pun bukan karakter yang mudah untuk dipahami. Terlepas dari seberapa pentingnya kita perlu memahami pilihan yang diambil oleh karakter-karakter dalam fiksi, cerita Satrapi kali ini tidak terlalu istimewa. Seberapa hebat Nasser Ali sebagai pemain tar tak ditunjukkan kuat. Berbagai kekecewaan dalam hidupnya mungkin memang berdasar, tapi Satrapi seperti tak bisa memilih imaji yang kuat untuk menunjukkan kenapa kekecewaan itu penting.
Mungkin karena ini bukan cerita tentang dirinya sendiri dan ia (aku tebak) harus bersandar pada cerita-cerita keluarga tentang sosok Nasser Ali, maka kekuatan Satrapi sebagai pencerita di sini jadi terasa tumpul.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.