You're here: My Writing Blogging » Kerlip Teenlit » Article: Yang Masih Terus Berdetak

Yang Masih Terus Berdetak

isyana — November 7, 2008 / 11:57 pm

Kelompok penyair dan penulis generasi Beat sepertinya memang…belum ada matinya. Jack Kerouac (yay!) dan William S Burroughs berkolaborasi menulis sebuah novel, And the Hippos Were Boiled in Their Tanks. Ceritanya tentang pembunuhan yang dilakukan oleh salah seorang teman mereka pada musim panas 1944.

Si teman adalah seorang Lucien Carr, dalam buku namanya disamarkan menjadi Phillip. Salah satu alasan kenapa buku ini baru diterbitkan sekarang adalah pada sosok Carr. Singkatnya:

This was Lucien Carr, best known to Beat watchers as the dedicatee of Allen Ginsberg’s Howl. When Carr died in 2005 he was a respected United Press editor and family man. Back in 1944 things were very different. Then he was 17 and beautiful: “the kind of boy literary fags write sonnets to, which start out ‘O Graecian Lad’”, as Burroughs says in the Hippos book. He was sexually ambivalent, the friend of the fast living Jack Kerouac, William Burroughs and Allen Ginsberg. And he was a murderer.

Selengkapnya.

Berbicara tentang Kerouac.

My music-geek friend baru saja mengenalkanku pada Death Cab for Cutie, sebuah band yang sudah cukup lama aku penasaranin. Nah, setelah mendengarkan musik mereka (dari album Plans, lagu Marching Bands of Manhattan), kok kedengerannya…so geeky ya? Hehe.

Tapi, wawancara Hai dengan Ben Gibbard menunjukkan bahwa ia mengagumi Kerouac sebagai seorang penulis. Katanya, “Jack Kerouac selalu menjadi inspirasi untuk hidup saya dan untuk penulisan-penulisan lirik DCFC. Saya suka cara menulisnya yang mengalir dan gaya penulisan romannya.”

Entah kenapa tapi membayangkan para music geek ini nongkrong bareng dengan Kerouac yang uber-cool jadi sebuah imaji yang menyenangkan.

Lalu ada frasa this skinny eighteenth century Emo kid (haha!) yang membuatku membaca keseluruhan artikel ini. Intinya tentang penyair (dan puisi) yang seharusnya tak lagi diidentikkan dengan kemuraman atau kemurungan.

Dan artikel dari The New York Times ini, menggambarkan apa yang terjadi (pada mereka dan karyanya) ketika sesama penyair saling jatuh cinta. Yang disoroti adalah penyair Elizabeth Bishop dan Robert Lowell.

Selamat berakhir pekan!

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • ee lu — bego lu
  • aldit — iya penjelasan ini di butuhkan kalau bisa penjelasan nya harus lengkap
  • Memahami puisi — Artikel pendidikan yang sangat menarik ,,,,,
  • chocovanilla — Saya juga sedang membaca karya PAT tetralogi Buru, saat ini dah buku ketiga "Jejak Langkah". Cuma masih bingung arti kata ...
  • anabalqis — Salam. Saya mencari sahabat saya dari jakarta, saudara akidah gaizillah. Adakah saudara mengenal atau tau alamat emailnya? Akidah seorang penulis ...
  • ibnu junjunan — tolong kasi tau duwnk 3 arti satra menurut para ahli
  • cintya — ada lomba lg g ,,klo ada tlg d kabarin ke email q y di>>>cintya.annisa@yahoo.com....trim's
  • Liana — Beli dvd Rosemary's baby di mana ya?
  • Liana — Beli novel Rosemary's baby di mana ya?
  • isawati — Sosok Wiji Thukul memang unik, nyentrik dan menarik. Jarang seorang penyair yang puisinya begitu terkenal melebihi dirinya sendiri. Jika kita ...