Archive for the ‘Obrolan’ Category

‘The Cossacks’ dan ‘Into the Wild’

Saturday, September 20th, 2008

Ada bagian di ‘The Cossacks’-nya Tolstoy, yang membuatku berkomentar: Kayaknya karakter Chris McCandless di ‘Into the Wild’ lebih pas membaca ini deh daripada Tolstoy yang ‘Happy Ever After/A Family Happiness’.

Ingat nggak, di film Into the Wild, waktu karakternya sudah tinggal di bis dan mulai kehabisan makanan dan mulai mengambili dedaunan dan biji-bijian? Dia kecantol pada kalimat dari A Family Happiness-nya Tolstoy, tentang keinginan untuk menyebut tumbuhan indah di sekitarnya “with their own true name”?

Tapi sepertinya The Cossacks lebih pas buat teman perjalanan. Ceritanya tentang seorang pemuda bernama Olenin yang pergi menjauh dari kota besar ke pedalaman Caucasus. Sudah agak-agak mirip Into the Wild kan, yang memilih Alaska sebagai tempatnya menyendiri?

Paragraf yang menggetarkan itu menggambarkan tentang pertemuan pertamanya Olenin dengan gunung salju Caucasus. Tolstoy menggambarkannya seperti ini:

“Suddenly he saw, at what seemed to him at first glance to be about twenty paces away, gigantic pure white masses with gentle curves and fantastical airy summits minutely outlined against the distant sky. When he realized the distance between himself and them and the sky, and the whole immensity of those mountains, and their infinite beauty, he feared lest it prove to be a mirage or a dream. He gave himself a shake, but the mountains were still there.”

……..

“At first Olenin only marveled at the towering masses, then delighted in them; but later on, gazing more and more intently at that snow-peaked chain that seemed to rise not from other, black masses but straight out of the plain, and to glide away into the distance, he began gradually to take in their beauty and feel the mountains. From that moment, whatever he saw, whatever he thought, whatever he felt, acquired a new character, sternly majestic, like the mountains.”

Hmm.

*melanjutkan The Cossacks*

Popularity: 5%

Siapa yang Tidak Tahu Arti ‘Nestapa’?

Saturday, February 9th, 2008

Anak-anak sekarang banyak yang tidak tahu artinya ‘nestapa’ ternyata. Ini menurut vokalis band “White Shoes & The Couples Company” Aprilia Apsari (Sari) dalam sebuah sesi wawancara, Jumat (1/2) lalu.

Setidaknya pertanyaan tentang arti kata ‘nestapa’ dalam ungkapan ‘gelombang nestapa’ yang ada di lagu ‘Senandung Maaf’ kerap muncul di halaman Friendster atau MySpace milik White Shoes . “Masak anak jaman sekarang nggak ngerti ‘nestapa’ apa, kan sedih banget. Nestapa, masak nggak ngerti sih? Guru Bahasa Indonesianya patut dipertanyakan tuh,” kata Sari.

Dan aku pun agak nggak percaya, masa arti kata ‘nestapa’ mulai tidak diketahui sih? *sambil ke kamar dulu mengambil KBBI. Walaupun aku agak ragu, apa ini KBBI yang ‘orisinal’, kok kayaknya kurang ‘Besar’ dan beda sama yang di kantor..*

Tapi, yeah, ini dia:

nestapa kb. kesedihan yang mendalam; gunda hati

Pertanyaan awalnya pada mereka adalah tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik, benar, dan sedikit agak kuno di lirik-lirik lagu mereka. Aku tanyalah, gimana caranya menghidupkan gaya pengungkapan yang seperti itu. Kalau dari segi musikal, cara mereka menulis lirik dan memilih kata kebanyakan bersumber dari lagu-lagu lama dengan lirik bagus.

Sari mencontohkan, “Kayak lagu-lagunya Ismail Marzuki, di lagu ‘Juwita Malam’, cuma nyeritain berpisah di Jatinegara aja kayaknya romantiiiss banget. Dan mereka menghindari kalimat ‘aku cinta kamu’. Tapi kita tahu dari lagu itu mereka sangat menyayangi satu sama lain. Dibuat berkelok-kelok, itu yang menjadi ciri khas lirik lagu lama, ya ini salah satu pengaruh di lirik juga.”

Tapi ada pula saatnya White Shoes menggunakan lirik-lirik lugas. “Seperti Chandra Darusman di lirik-liriknya ‘Indahnya Sepi’ itu kan benar-benar harafiah. Ya udah, enakan bujangan daripada banyak masalah, punya cewek, kayak gitu, tapi pencarian kata-katanya itu indah,” tambah Sari.

Yang menarik, mereka juga sampai membuka novel-novel pop di era 1970an demi memperkaya kosakata bahasa dan cara pengungkapan. “Novel pop sekarang kan lebih banyak yang pake bahasa slang. Kalau dulu tuh bener-bener bahasa Indonesia, di novelnya NH Dini aja, hujan aja dibilangnya detaiiill banget. Nah gitu deh, pendetilan itu yang kita ambil. Lebih deskriptif. Jadi kalo biasanya orang dengerinnya pakai walkman, sendirian, dia pasti mengkhayal. Nah itu yang berusaha kita ambil di lirik,” kata Sari.

Yusmario Farabi atau Rio (gitar akustik) mengatakan bahwa novel pop pun memengaruhi cara mereka memilih kata. “Biar kata yang dipakai nggak itu lagi-itu lagi. Dan juga kalau novel-novel lama itu susunan katanya nggak selalu SPOK, bisa dibalik-balik. Lucu aja. Buat pribadi kita juga perlu sih untuk memperkaya bahasa dan ketika diterapin ke lirik ada efeknya. Jadi kita tahu, oh ada kata ini yang bisa digunakan juga. Nggak cuma cinta lagi-cinta lagi,” kata Rio.

Saat ini, penggunaan kosakata yang ada di musik pop Indonesia, mereka nilai mempersempit referensi bahasa anak muda jaman sekarang. “Di jaman sekarang nih, di tengah musik begini banyak, tiba-tiba ada orang yang pakai kata-kata kayak gitu selain kita, kita bakal seneng banget karena bagus berarti, orang Indonesia pakai bahasa Indonesia yang benar,” kata Sari.

Hmm, sekarang, waktu mengetik posting ini, lagi hujan deras sekali di rumah. Aku jadi mengingat-ingat, di mana ya menaruh “Pada Sebuah Kapal”? Sudah terlalu lama buku itu tidak dibalik-balik…

Popularity: 19%

Marlon Brando

Saturday, February 9th, 2008

Beberapa hari menjelang akhir 2007 dan beberapa hari setelah akhir 2007, aku mengisi hari-hari (tsaahh..) dengan menonton DVD film-film Marlon Brando. ITC Ambassador punya peran (sangat) besar dalam pengenalanku terhadap ikon-ikon budaya pop. Di situlah aku menemukan sebuah set DVD yang isinya lima film-film ‘utama’ Brando, “On the Waterfront”, “Mutiny on the Bounty”, “Viva Zapata”, “A Streetcar Named Desire” dan “Desirée”.

(Aku nggak yakin sih “Desirée” bisa dibilang sebagai film ‘utama’ Brando, tapi itu film menunjukkan betapa tidak konyolnya Brando sebagai seorang aktor, sampai-sampai dia bisa memerankan banyak tokoh karismatis [kharismatis ?] nyata atau pun imajiner, dan kita nggak meragukan dia sebagai sosok-sosok itu. Mulai dari pemimpin revolusi Emiliano Zapata, Julius Caesar, Mark Antony [ini versi imdb.com lhoo] sampai, tentu saja, Don Vito Corleone)

Awalnya, waktu memikirkan alur posting ini, aku ingin memulai dari ‘Kartun Peradaban’-nya Larry Gonick–yang aku yakini jadi buku pertama yang diselesaikan tahun ini, tapi ternyata enggak–dan menghubungkannya ke Brando. Di ‘Kartun Peradaban’, Gonick memberikan gambaran runtun dan panjang tentang evolusi manusia, dari yang punya ciri ‘kebinatangan’ sampai akhirnya jadi manusia cerdas. Dan ketika aku melihat sosok Brando, ternyata evolusi itu jadi seperti sebuah proses yang nggak gitu berguna, karena ternyata kita (atau mungkin aku ya?) tetap menginginkan adanya sisi-sisi animalistik itu muncul pada seorang pria (ngguanteng).

Tapi, ini, jika ada satu ciri utama yang digunakan dalam menggambarkan sosok Marlon Brando, maka ciri itu adalah ‘kebinatangan’. Karakter Stanley Kowalski di dramanya Tennessee Williams, “A Streetcar Named Desire”, contohnya. Stanley Kowalski adalah peran yang sangat melekat pada Brando, bukan hanya karena ia memerankannya pada pementasan teater di panggung, tapi diabadikan pula di seluloid film berjudul sama. Beginilah cara Stanley Kowalski, dalam naskah Tennessee Williams, digambarkan:

“He is of medium height, about five feet eight or nine, and strongly, compactly built. Animal joy in his being is implicit in all his movements and attitudes. Since earliest manhood the center of his life has been pleasure with women, the giving and taking of it, not with weak indulgence, dependently, but with the power and pride of a richly feathered male bird among hens.”

(Dan buku seken “A Streetcar Named Desire”-ku sampul depannya adalah Brando yang sedang telanjang dada, memamerkan ‘animal joy’ yang implisit itu…)

Di “Movie Love in the Fifties”-nya James Harvey, sutradara Elia Kazan–yang menyutradarai Brando di “On the Waterfront”, “Streetcar” dan “Viva Zapata”–mengomentari Brando:

“Brando, he said, was the only actor genius he’d ever known–it was “like directing some genius animal.” And indeed Brando’s face does have an animal sort of inadvertence–the undefended expressiveness that goes with not being able to make a face, the way people (and actors) do.”

Ya, jika ada yang ingin menjadi aktor hebat seperti Brando–dan, let’s face it, aktor mana yang tidak lepas dari Brando?–maka mungkin ini saat yang tepat untuk menyumpah-nyumpahi evolusi. Cara sebuah aktor hebat dibuat ternyata dengan mempertahankan animalistik yang disisihkan oleh jutaan tahun evolusi, hehe.

Ada sesuatu lagi yang aku dapat dari Brando lewat bukunya James Harvey itu. Bahwa aku ternyata tidak bisa lari dari Salinger dan Holden. Di buku itu sebenarnya Harvey berfokus pada pergerakan karakter perempuan dari film-film noir 1940an ke melodrama 1950an. Dari perempuan-perempuan femme fatale, ada pergeseran nilai karakter perempuan menjadi lebih polos dan pirang, kemudian menjadi lebih muda dan seksi secara tradisional. Tapi Harvey juga memetakan adanya perubahan nilai pada karakter laki-lakinya, dari yang berusaha dewasa dan berakting seperti orang dewasa menjadi karakter-karakter boy-men yang gagal menjadi orang dewasa. Brando memerankan beberapa tipikal karakter ini lewat “On the Waterfront” dan “Streetcar”.

“Brando’s Stanley felt at times like the kind of explosive truthteller the culture will occasionally produce just when the cant and banality seem most unchallengeable, someone who cuts through all the bullshit and to hell with it.

But of course he only felt like that to us: even in Brando’s person he was too mean and stupid, and still to much William’s rough-trade nightmare, to really be that figure. The one who was for most of us was in a book, not a play or movie: it was Salinger’s Holden Caulfield in The Catcher in the Rye (1951)….

Holden’s obsession with “phonies”, wonderfully comic and entirely serious, both echoed and gave a rich, special voice to the very American concern with personal authenticity, with the sort of plainness and directness and honesty of character that we wanted to think of as ours–or at least as potentially ours. And it was such an enlivening voice–in spite of fundamentally depressed view it took of us, of our contemporary lives, and of American culture in general. “Nothing is more exhilarating than philistine vulgarity,” says Nabokov (also a Salinger fan) in his afterword to Lolita, another seminal text of the time. And The Catcher in the Rye seemed to capture both the vulgarity and the exhilaration as no one had before–or perhaps has since (except for Lolita).”

Oke, pertama, aku baru tahu kalau Nabokov ternyata penyuka Salinger. Tapi siapa yang bisa kebal terhadap pesona Salinger coba? (Really, I want to meet that person) Dan kedua, kayaknya nggak guna juga ya mencoba keluar dari kolam nyaman Salinger seperti resolusi pembaca tahun baruku itu, karena ketika aku memulai dari topik yang sangat tidak Salinger (Hollywood maksudnya…) lalu meloncat ke Tennessee Williams, eh kok ya tahu-tahunya ketemu lagi dengan Salinger dan Holden.

Mungkin juga karena aku melihat ke periode 1950an dan ada kesamaan nilai ‘boy-man’ yang merajai budaya pop saat itu sih..Tapi sepertinya jawabannya adalah, Salinger memang sebeperpengaruh itu.

Popularity: 20%

Memasuki Dunia Jane

Monday, January 21st, 2008

Ada beberapa film (atau malah mungkin banyak) yang membuatku jadi lapar membaca. “Becoming Jane” adalah salah satunya. Sebenarnya nggak ada niatanku menonton film ini, walaupun subyek yang diangkat adalah Jane Austen–salah satu penulis favoritku–.

Keengganan menonton itu karena aku nggak habis pikir, gimana bisa seorang Anne Hathaway terpilih memerankan Jane Austen yang, berdasarkan sketsa dan gambaran umum dari teman-teman dan keluarganya, bukan seorang perempuan yang jelita. Tapi karena keringnya ‘Rahasia Meede’ dari unsur-unsur ‘matters of the heart’ yang jadi kekuatan Jane Austen, dan juga ternyata…aku nggak bisa hidup tanpa ‘matters of the heart’ itu, ya tampaknya membaca “Meede” harus dihentikan sebentar biar ‘hatiku’ bisa diremas dan dipijat. (Plus my latest crush, James McAvoy main jugaaa….)

Ternyata, Anne Hathaway memberikan penampilan yang lebih dari sekedar sesuatu yang ‘bisa dimaafkan’, walaupun kalau dipikir-pikir lagi sebenarnya ‘cuma’ OK performance aja, nggak wuaaahhh banget (Mungkin penilaian ini juga karena pada awalnya aku menganggap Hathaway akan jadi bencana…). Ceritanya sih, pada usia 20an atau 21an, Jane Austen pernah jatuh cinta sama seorang Tom Lefroy. Sayangnya, mereka sama-sama miskin. Tidak seperti karakter-karakter di cerita-ceritanya yang bisa menemukan cara untuk menikah walaupun sama-sama miskin (Edward Ferrars-Elinor Dashwood, misalnya), Austen hidup di dunia nyata. Dan Tuhan juga bukan penulis seperti Jane Austen yang memberinya happy ending.

Ada jejak-jejak ‘Pride & Prejudice’ di ‘Becoming Jane’, elemen-elemen Mr Darcy di Tom, elemen-elemen Mr Collins, Lady Catherine de Bourgh, skenario Wickham-Lydia….lewat ‘Becoming Jane’, sumber-sumber inspirasi ‘Pride & Prejudice’ jadi terdefinisi, walaupun mungkin bisa tepat, bisa tidak tepat. Tapi, aku jadi ingin mengecek tentang hal-hal detil, apakah Jane pernah berciuman dengan Lefroy, mengingat masa itu begitu sopannya aturan-aturan sosial sementara di situ digambarkan beberapa kali mereka berciuman, berapa kakak laki-laki yang dimiliki Jane sebenarnya, sampai…benarkah Jane merencanakan elopement (kawin lari) dengan Lefroy. Dan, oh ini, sepertinya Jane dan Lefroy nggak butuh waktu lama untuk jatuh cinta dan terikat erat, padahal mereka cuma ketemu beberapa kali, ketika ketemu pun omongannya nggak gitu menggambarkan pertemuan pikiran yang klop seperti digambarkan Jane untuk karakter-karakternya gitu.

Keinginanku adalah menemukan sebuah biografi Austen yang bagus.

Dan keinginan itu terjawab tepat dua hari kemudian, ketika aku tidak sengaja jalan ke QB. (Kenapa cepatnya keinginan yang terkabulkan ini tidak pernah terjadi untuk urusan cowok adalah hal yang di luar kemampuanku menafsirkan…). Dengan harga diskon pula. (Walaupun ada biografinya F Scott Fitzgerald dan JD Salinger juga yang harganya sama-sama diskon 40 persen…). “Jane Austen” judulnya, penulisnya Carol Shields.

Sebenarnya ini bukan biografi ‘resmi’, dalam artian biografi yang diberikan terasa umum, tapi juga cukup spesifik pada beberapa titik. Tidak terasa terlampau akademis, tapi terasa bahwa orang yang mengerjakannya sudah menguasai apa yang akan ditulisnya. Mini biografi, bisa dibilang. Tapi lengkap mencatat perjalanan hidup, impresi Shields terhadap karya-karya Austen, sampai proses kepenulisan Austen. Singkatnya, batu loncatan yang pas sebelum beranjak ke biografi yang lebih ‘akademis’ dan pasti, lebih tebal.

Ternyata, pertemuan-pertemuan Jane dengan Lefroy memang tak sering. Dan ‘Becoming Jane’ ternyata patut dihargai karena tak luput menampilkan detil, tentang kebiasaan Jane dengan piano forte-nya, tentang perbincangan antara Lefroy dan Jane mengenai ‘Tom Jones’, dan ciuman-ciuman itu juga ternyata tak salah.

Tapi dari keduanya, buku dan film, aku jadi sadar, bahwa…walaupun resolusi tahun baruku adalah mengurangi prasangka sebagai seorang pembaca dan keluar dari ‘kolam-kolam nyaman’, tapi aku tidak bisa tidak merencanakan marathon membaca Jane Austen setelah ‘Meede’ selesai. (Bisa dihitung sebagai detoksifikasi ‘Meede’ kali ya…)

Dan sekarang, dalam dua hari selesai ‘Persuasion’ (ya emang mungkin naturenya penyuka cerita cinta ya…), dan sekarang lagi membaca ‘Northanger Abbey’. Resolusi tambahan juga, tahun ini harus menyelesaikan ‘Mansfield Park’ deh, satu-satunya yang nggak aku baca karena heroine-nya, Fanny Price, paling ‘berbeda’ dengan karakter-karakter Austen lainnya.

‘Persuasion’, tunggu ya resensinya.

Popularity: 29%

ES Ito, Si Pemasak Rendang

Monday, January 21st, 2008

Baru beberapa hari yang lalu aku selesai men-transkrip (jadinya ‘menranskrip’ ya karena luluh?) rekaman wawancara dengan penulis ‘Rahasia Meede’, ES Ito. Ada beberapa kutipan dari wawancara itu yang cukup menarik.

Aku sempat menanyakan tentang betapa identiknya tokoh-tokoh di ‘Meede’ saat menyuarakan kemarahannya, atau bahkan saat berbicara. Dan ini jawabannya:

“Tafsir pembaca kan boleh-boleh aja. Tapi saya melihat bahwa…saya sepertinya dari dulu membagi tokoh-tokoh saya itu gampang saja. Saya tarik garis lurus antara orang tua yang tamak dan anak-anak muda yang struggle. Saya bagi antara itu saja. Simpel saja. ‘Negara Kelima’ seperti itu, ‘Rahasia Meede’ seperti itu.

Walaupun ada pertentangan antara si Kalek, Batu, Cathleen Zwinckel, Lusi, dan segala macam, yang terjadi di sini adalah ada yang muda berjuang, ada yang tua yang selalu ingin menguasai kembali..berkuasa segala macam. Itu kan problem-problem di Indonesia. Bahwa alih generasi tidak pernah terjadi di Indonesia. Bahwa semuanya omong kosong di Indonesia.”

Oke, oke, oke.

Nadanya berbicara sih biasa-biasa saja. Bersemangat lah. Tapi dari pilihan bahasa dan ungkapan-ungkapannya, aku nggak bisa nggak nanya, kamu sebenarnya marah sama apa sih?

Him: “Saya sebenarnya… kemarahan dalam arti sesuatu yang bersifat personal terhadap republik ini tidak ada saya. Karena saya pikir republik ini tidak pernah memperhatikan saya juga kok. Saya nggak ada urusan dengan Indonesia ini.

Tapi saya melihat bahwa kalau pun kita marah, kita marah dengan potensi-potensi yang menjadi sesuatu yang baik menjadi runtuh di tengah jalan. Kita berbicara tentang reformasi 98 misalnya, tentang apa yang diperjuangkan pada 74, 78, 66, sesuatu yang terhenti di tengah jalan karena saya pikir setiap semua generasi muda, generasi mahasiswa selalu menyemai benih untuk kehidupan yang baik di Indonesia, tapi ketika mereka tua mereka sendiri yang menghancurkan benih-benih yang mereka tanam itu. Itu problem terbesarnya. Bahwa pengkhianat terbesar di Indonesia adalah mereka yang memperjuangkan apa yang mereka khianati sendiri. Saya pikir bahwa kita patut marah terhadap diri kita sendiri di Indonesia, kita jadi pengkhianat akan apa yang kita perjuangkan sendiri.”

(Hmm…sebenarnya dia peduli kan artinya?)

Selanjutnya, adalah pertanyaan yang tidak bisa tidak aku tanyakan ketika bertemu seorang penulis, who’s your biggest influence in writing?

(Orang-orang yang fleksibel mungkin tak selalu menjawab dengan sosok karena tak pernah ada dan menjawab dengan sesuatu yang abstrak, tapi sebenarnya aku lebih ingin tahu tentang siapa atau apa sumber energi terbesar si penulis ketika menulis. Atau mungkin si penulis ini merasa terus berada di bawah bayang-bayang siapa sih…)

ES Ito: “Orang selalu bilang saya terpengaruh dengan Dan Brown. (padahal aku menebak Pram–blogger–). Soal cerita, soal macam-macam, dan saya pikir ada beberapa hal yang mirip dengan Dan Brown tapi saya tidak akan katakan bahwa saya banyak terpengaruh oleh Dan Brown. Misalnya… Mbak suka makanan Eropa nggak? Apa ya, spaghetti, misalnya, itulah Dan Brown. Dia memasak sesuatu yang tidak ada bumbunya, dan itu bumbu lama, tentang masalah agama, masalah apa. Dan dia tidak berasa rempah-rempah kayak kita.

Konteks cerita, mungkin, dari Dan Brown, tapi dia cuma masak spaghetti, minus rempah-rempah, tidak ada bumbu, dan saya sangat tidak suka dengan masakan Eropa. Saya itu masak rendang lho, mbak, penuh dengan rempah-rempah nusantara. Ini suatu kekayaan yang tidak dimiliki Dan Brown. Dia berkutat dengan masalah agama. Saya tidak melakukan itu (menjelek-jelekkan), saya pikir di luar konteks agama jadi masalah peradaban dari dulu, saya pikir orang harus melihat konteks sosial hubungan orang antar manusia dan itu hanya ada pada kebudayaan yang tidak terikat dengan nilai-nilai langit (di sini aku butuh beberapa menit untuk me-rewind, me-fastforward, kebingungan dan merenungkan artinya…–blogger). Saya pikir itulah kekayaan Indonesia. Pengaruh terbesar, seperti Victor Hugo yang bisa mengangkat Perancis lewat Les Miserables dan semacamnya, jauh lebih hebat saya pikir, walaupun cara penceritaannya beda dari saya. Atau Ibunda-nya Gorky. Pram juga dengan Arus Baliknya, juga sangat bagus. Dan juga tentang kemarahan-kemarahan yang sangat bagus disampaikan, saya pikir itu AA Navis jagonya. Saya melihat konteksnya seperti itu. Saya pikir saya melakukan sesuatu yang baru di Indonesia dengna pola penceritaan seperti ini. Saya pikir setiap penulis membangun karakternya sendiri.”

‘Saya pikir’, sepertinya adalah pembuka kalimat favoritnya…

Ini juga pertanyaan yang (pengennya) selalu aku ajukan ke penulis, sutradara, musisi, karena kecintaanku dengan “High Fidelity”. Top 5 books of all time kamu apa?

“Saya sebut satu saja ya, karena lainnya nggak yakin. Ibunda-nya Gorky. Lainnya ragu, saya tidak yakin, setahu saya saya sudah tiga tahun baca dan saya masih yakin itu yang menarik menurut saya. Yang lain kadang bagus, tapi bisa aja tiba-tiba nggak suka. Itu (Ibunda) buku yang berpengaruh tidak langsung ke jantung kekuasaan tapi berasal dari tingkat rumah tangga, perlawanan segala macam itu.”

‘Negara Kelima’, katanya sampai sekarang baru terjual 2500 eksemplar, tapi ‘Meede’ sudah mau naik cetak ketiga kalinya. Buat ‘mencoba sesuatu yang baru di Indonesia’, dia mengakui angka itu cukup bagus. Apa yang bisa dibacanya tentang pasar pembaca Indonesia?

Angka itu sih, menurutnya, adalah reaksi wajar dari pasar, sebanding dengan upayanya mengerjakan buku itu selama dua tahun (”Itu belum cukup, kalau bisa saya butuh waktu empat tahun lagi mengerjakannya…”). Tapi, ‘gerutuan’ lengkapnya:

“Bahkan penerbit pun selalu bilang, pasar penulis Indonesia nggak bisa dibaca. Saya sendiri pesimis ketika menjual karya ini, karena saya pikir ini bukan sesuatu yang layak dijual, ini bukan masalah cinta-cinta dengan akhir bahagia, bukan kisah di mana laki-laki yang bisa poligami tiga orang, bukan juga kisah menguras air mata tentang pendidikan segala macamnya (haha, I think I know siapa yang dimaksud–blogger–), kalau pun ini kejual, ini juga bukan sesuatu menguras air mata. Saya tidak bisa membuat orang menangis. Tapi kita punya urusan dengan sejarah, dengan bangsa Indonesia, tapi kalaupun kejual, saya tidak tahu kenapa kejual.

Tapi seharusnya orang membaca karya-karya seperti ini walaupun tidak seluruhnya benar, kan bisa saja yang ditulis tidak benar. Tapi budaya berpikir tidak tumbuh dari kita terima lalu kita menangis, kita berurai air mata, puja-puji segala macam, kita belajar berpikir dari meragukan sesuatu. Saya pikir ketika orang melemparkan sebuah karya sastra dia harus menimbulkan polemik di masyarakat. Dan tidak melulu masalah seks. Seks saya pikir bukan akar utama dari polemik. Ada hal-hal yang lebih penting daripada seks. Seks, kebebasan, saya pikir itu isu usang yang nggak perlu lagi kita angkat-angkat.”

Tentang kenapa dia memilih menulis sejarah, mungkin kutipan ini bisa kurang lebih membantu menjawab:

“Menulis, pertama, (sumber energinya) rasa ingin tahu. Saya tidak bisa menulis kalau tanpa ada literatur atau konteks yang benar-benar ada. Saya tidak bisa menulis, misalnya, membayangkan sesuatu kisah cinta segala macam, saya bikin konteks yang seperti ini, seperti ini, saya tidak bisa. (Harus ada) Konteks yang benar-benar terjadi, riil yang ada di masa lalu, masa sekarang. Saya belajar menulis karena saya merespon sesuatu ketika saya kuliah dulu. Saya menulis bukan utopia-utopia cinta, damai, segala macam. Saya menulis karena merespon sesuatu yang riil terjadi di masa lalu atau masa sekarang. Jadi energinya ya bisa rasa ingin tahu.”

Tapi di bagian lain wawancara, dia terus-terus mengulang ini tentang menulis (dan entah kenapa, nggak bisa saya keluarkan dari kepala): “Menulis itu respon, respon. Saya pikir respon.”

Popularity: 17%

Tentang Adaptasi dan Jacqueline Wilson

Friday, January 4th, 2008

Ada adegan dalam film “You’ve Got Mail“, saat karakter Kathleen Kelly (Meg Ryan), secara diam-diam, datang mengunjungi toko buku raksasa Fox Books milik Joe Fox (Tom Hanks).

Dalam adegan itu, seorang pengunjung bertanya pada penjaga toko, di mana dia bisa menemukan ‘Shoe Books’. Si penjaga toko tidak mengetahui buku sepatu apa yang dimaksud. Lalu karakter Kathleen membantu menjelaskan tentang serial buku yang dikarang oleh penulis Noel Streatfeild ini. Ada Ballet Shoes, Dancing Shoes, Party Shoes, Circus Shoes, Tennis Shoes. Lengkapnya ada di sini. Dari cara Kathleen menggambarkan betapa ia menyukai buku itu di masa kecil, aku jadi penasaran. Penasaran akan bisa atau tidaknya buku ini membuatku merasa sama seperti aku membaca buku-buku masa kecilku yang lain. Secara nggak sengaja, ketemulah buku ini, dan ya…karena tidak ada memori masa kecil yang terekam lewat buku itu, rasanya jadi biasa-biasa saja ketika membaca. Tapi, ternyata, (nah, ini baru beritanya..) BBC merilis versi serial Ballet Shoes yang juga dibintangi oleh Emma Watson (Hermione Granger) dan mendapat resensi kurang begitu bagus dari Shirley Dent di The Guardian. Ah, sepertinya aku jadi ingin membolak-balik Ballet Shoes lagi…

Jacqueline Wilson–penulis Kisah Tracy Beaker, Lizzie Si Mulut Terkunci Pengasuh Mama, Anak-Anak Nakal, Mumi Kucing, Anak Tanpa Rumah, Pesta Menginap, Permainan Tantangan, Buku Harian Lottie, Lola Rose dan Situs Masalah, untuk menyebut beberapa di antaranya–berhak menyandang gelar Dame dari Order of British Empire (OBE). Penulis naskah drama dan cerita pendek Hanif Kureishi dan kreator karakter anak-anak Spot, Eric Hill, juga mendapat pengakuan dari OBE. Julie Eccleshare dari The Guardian menganggap sudah sepantasnya dan sudah saatnya seorang penulis cerita anak mendapat pengakuan OBE, seperti yang sudah banyak diterima penulis cerita dewasa.

Berbicara tentang penulis cerita anak-anak atau mereka yang beranjak dewasa (young adult), harian LA Times menurunkan tulisan tentang tiga penulis yang patut ditunggu karyanya pada 2008. Salah satunya adalah Kelly Link, penulis cerita-cerita fiksi ilmiah untuk anak-anak. Tulisan lengkapnya ada di sini.

Penulis trilogi His Dark Materials, Philip Pullman menulis tentang apa yang membedakan versi film dan versi buku secara umum. (Walaupun mungkin ini juga bertepatan dengan peluncuran versi film bagian pertama His Dark Materials, The Golden Compass). Sudah ada yang membaca dan menonton dan membandingkan?

Popularity: 16%

Tahun Baru, Daftar Bacaan Baru

Friday, January 4th, 2008

Ya, ya, bukan judul paling kreatif yang pernah aku buat. Kalau Lorelai Gilmore pernah berpendapat, “A movie can’t just be it’s title. Snake on a Plane!” saat mengungkapkan keheranannya, mungkin daging posting tidak bisa hanya judulnya saja. Tapi ya, karena judul itu yang paling pas menyimpulkan isinya, harap maklumlah…

Sebenarnya aku berencana untuk mengecek ulang daftar bacaan tahun lalu, tapi karena penataan kembali dan alfabetisasi buku-buku, daftar itu–yang sebenarnya lebih berupa tumpukan buku-buku yang dibaca tahun lalu–jadi hilang. Tapi, demi blog ini, aku berniat mencatat buku-buku yang rencananya akan dan sudah dibaca.

Oke, resolusi pertamaku sebagai seorang pembaca adalah menjadi pembaca yang tidak berprasangka. Kalau misalnya sebelumnya aku menganggap Raymond Carver terlalu Amerika dan maskulin tanpa pernah membacanya, misalnya, nah pikiran seperti itu harus disingkirkan. Atau kalau aku menganggap para lelaki eksistensialis itu (Sartre, Camus…Sartre terutama..) menyebalkan, nah itu juga tidak boleh. Atau kalau selama ini saya berpegang pada kata-katanya Katherine Anne Porter tentang Erica Jong yang merendahkan harkat perempuan, harusnya ya tidak bisa diterima mentah-mentah saja. Apalagi kalau karya klasiknya “Fear of Flying” masih teronggok di rumah dan belum dibaca. Karya ini ternyata sudah berusia 35 tahun dan oleh John Keenan dari The Guardian dianggap masih tajam. Membaca artikel dan kutipan dari buku itu, aku menebak, Ayu Utami must have been taking a lot of notes from what Jong has been doing…

Tapi selain meminimalkan prasangka, ada area karya beberapa penulis yang ingin aku dalami pada 2008. Jack Kerouac lewat On the Road, lalu karya-karya Joseph Heller (Catch 22, Something Happened), Ken Kesey (One Flew Over Cuckoo’s Nest, Sometimes a Notion), Kurt Vonnegut (Breakfast of Champion, Piano Player), semuanya adalah teritori baru untuk aku jelajahi.

George Eliot (alias Mary Anne Evans) juga. Eliot bisa dibilang setengah baru, karena aku pernah membaca sebagian ‘Middlemarch’, hanya belum selesai, dan rencananya ingin diselesaikan tahun ini, bersama dengan The Mill on the Floss dan Daniel Deronda. Melengkapi membaca repertoar karya-karya Edith Wharton dan F Scott Fitzgerald yang memang sudah disukai pun akan diteruskan.

Dan aku ingin mencoba lagi dengan Gabriel Garcia Marquez. Beberapa minggu sebelumnya, aku sempat melihat Love in the Time of Cholera di Periplus Plaza Indonesia dengan harga yang agak lumayan murah. Yang membuat panik, karena di depannya tertulis: Now A Major Motion Picture. Hah? Kapan mau keluar? Siapa yang mau main?

Nggak rela keduluan oleh versi filmnya, jadi beli deh. Dan sekarang sudah ada di halaman 50an. Lebih baik daripada saat membaca One Hundred Years of Solitude yang selalu berhasil membuat ngantuk.

Jadi, selamat tahun baru!
Selamat menyusun daftar bacaan baru!

Popularity: 11%

Menjelang Akhir Tahun

Saturday, December 22nd, 2007

Minggu-minggu terakhir Desember ini tampaknya waktu yang tepat untuk mengecek ulang daftar bacaan, seberapa jauh kita sudah berjalan membaca buku-buku yang rencananya dibaca di 2007. Seperti posting ini di Conversational Reading.

Scott Esposito, si pemilik Conversational Reading, juga memasukkan daftar lengkap buku yang dibacanya selama 2007 di The Millions lewat post “A Year in Reading“. Tapi The Millions juga punya sederet nama lain yang mencatati buku-buku bacaan mereka sepanjang 2007.

Dan entah kenapa, aku bisa loncat-loncat senang ketemu blog 50 Books. Mungkin karena menemukan ternyata ada pembaca lain yang juga punya target angka yang sama dalam menyelesaikan bacaan dalam satu tahun. Apalagi dengan ’slogan’-nya: ‘One Woman. One Year. Countless Distractions’. Hah! Itu kan aku banget…

Slate juga mendaftar buku-buku terbaik selama 2007 versi pilihan editor dan kontributor mereka. Judul-judulnya (hampir) semua tidak familiar. Tapi, yang membuatku terhenyak, Susan Faludi sudah punya buku baru lagi? Teks feminis-nya, Backlash, saja belum sempat aku buka-buka…

Aku pernah menyitir sebelumnya artikel The New York Times tentang kemunculan pustakawan-pustakawan yang hip. Entah berhubungan atau tidak, tapi sekarang ada blog hiplibrarians, tempat para pustakawan ‘hip’ meresensi buku yang mereka suka. Atau mereka benci.

Selamat membaca.

Popularity: 11%

Berjalan ke Asia Tenggara

Friday, December 21st, 2007

Seberapa muda sebenarnya seseorang bisa mulai melakukan sebuah perjalanan? Maksudnya, perjalanan ke luar kota yang sifatnya liburan.

Aku pernah mendengar cerita tentang anak-anak, bayi-bayi bahkan, yang dibawa orangtuanya berlibur sampai ke Amerika hanya untuk tak punya kenangan sama sekali tentang liburan besar (dan mahal) itu. Aku pernah dibawa ke Bali dan beberapa obyek wisata terkenalnya sekitar usia 5 atau 6 tahun. Hasilnya pun kurang lebih sama. Ketika datang ke tempat itu lagi, aku hanya memiliki memori tersamar pernah datang ke situ, tapi tak ada sesuatu yang terasa khusus.

Dengan pilihan yang sadar, aku membeli Lonely Planet’s Southeast Asia on a Shoestring. Sudah sejak setahun aku membayangkan melakukan sebuah perjalanan mengitari Asia Tenggara, minus Phillipina (karena harus melakukan loncatan udara yang agak jauh), tapi tak pernah benar-benar tahu ke mana aku ingin pergi dan tempat apa yang paling ingin aku kunjungi. Apakah kebutuhan melakukan perjalanan sendiri datang seiring usia tertentu, saat kita memutuskan dan merasa sudah (akan) jadi orang dewasa?

Membeli buku ini adalah sebuah pilihan sadar karena tiba-tiba aku merasa butuh melakukan suatu perjalanan yang aku tentukan sendiri tujuan dan lamanya.

L(onely) P(lanet) adalah penerbit yang memang mengkhususkan pada buku-buku petunjuk perjalanan buat mereka yang memiliki anggaran terbatas. Mulai dari sejarah sebuah negara, budaya, satuan mata uang, tempat-tempat yang menarik dikunjungi, sampai hotel (murah) dan tempat makan (juga murah), semuanya lengkap disebutkan. LP ibarat kitab suci bagi para pejalan berkantong cekak.

Indonesia, memang punya banyak tempat tujuan wisata yang sifatnya masih off the beaten track untuk dikunjungi. Tapi dengan buku ini, aku jadi bisa menentukan salah satu masukan dalam daftar “Hal Yang Akan Aku Lakukan 2008″: melakukan perjalanan (murah) ke Laos, Vietnam dan Kamboja.

Jadi, Vientiane, Luang Prabang, Hanoi, Halong Bay, Saigon, Phnom Penh, Siem Reap, Angkor Wat….tunggu aku ya. Duh, jadi tidak sabar melakukan perjalanan lintas negara ini.

Popularity: 9%

Metro Paris, Harper Lee dan Yang Tak Pernah Dibaca

Thursday, November 1st, 2007

Saat naik bis dan kebetulan beruntung karena mendapatkan tempat duduk, aku akan mengeluarkan buku dan mulai membaca. Tapi saat keberuntungan itu didapat, buku mulai dikeluarkan, eh…tiba-tiba ada genjreng-genjreng mengiringi suara super cempreng dari pengamen bis kota. Coba-coba baca lagi, duh, kok tetap terganggu sih?

Akhirnya, setelah menunggu sampai si pengamen selesai, eh kok berhenti baru setelah enam lagu dan…sudah sampai di tujuan. Arrgghh. Padahal lagi pengen banget melanjutkan membaca. Duh.

Kapan ya Jakarta punya transportasi publik yang membahagiakan buat ‘pembaca angkot’ sepertiku? The Guardian menurunkan artikel tentang bacaan para penumpang metro di Paris. Berdasarkan deskripsi suasana di artikel itu, metro-nya Paris terasa benar-benar seperti surga bagi pembaca. Banyaknya orang yang membaca mungkin juga karena faktor kenyamanan ya? (Tapi katanya suka bau pesing juga? Lha kok tetap banyak yang membaca?)

Penggemar “To Kill a Mockingbird” yang penasaran dengan penulisnya, Harper Lee, bisa deg-degan sampai 5 November nanti. Pada tanggal itu akan Lee akan menerima penghargaan Presidential Medal of Freedom dari presiden George W Bush. Sama seperti Salinger, Lee memilih untuk menutup diri dari dunia luar, tak mau diwawancarai, dan tak lagi menerbitkan karya. (Masih relevankah kalau aku bertanya kenapa?). Jadi, 5 November nanti, akankah Lee keluar dari persembunyiannya? Oh ya, fotonya di artikel The Guardian itu kok mirip dengan potongan rambutnya Scout Finch di versi film “To Kill a Mockingbird” ya?

Masa-masa indahku dengan Joyce memang baru dua hari lalu. Dan aku masih optimis akan masa depan pertemanan yang baru terjalin ini. Tapi tak seoptimis itu untuk yakin akan menyelesaikan “Ulysses” suatu hari nanti. Tampaknya sih aku tak perlu cemas jika “Ulysses” tidak akan bisa diselesaikan. Slate menerbitkan lagi satu artikel tentang penulis kontemporer yang belum pernah membaca atau belum menyelesaikan buku yang ‘patut’ dibaca. “Ulysses” dan “Moby Dick” sempat disebut beberapa kali (dua-duanya ada di lemari bukuku, entah dulu untuk alasan apa membelinya…). “Swann’s Way”-nya Proust juga disebut. Jadi lega. Dan, oh, ini satu lagi artikel ’serupa’ yang pernah diterbitkan Slate enam tahun lalu, tapi saat itu yang mengaku dosa adalah para peresensi di berbagai publikasi. Baca deh, pasti merasa lega :D

Popularity: 12%