Archive for the ‘Profil Penulis’ Category

Memasuki Dunia Jane

Monday, January 21st, 2008

Ada beberapa film (atau malah mungkin banyak) yang membuatku jadi lapar membaca. “Becoming Jane” adalah salah satunya. Sebenarnya nggak ada niatanku menonton film ini, walaupun subyek yang diangkat adalah Jane Austen–salah satu penulis favoritku–.

Keengganan menonton itu karena aku nggak habis pikir, gimana bisa seorang Anne Hathaway terpilih memerankan Jane Austen yang, berdasarkan sketsa dan gambaran umum dari teman-teman dan keluarganya, bukan seorang perempuan yang jelita. Tapi karena keringnya ‘Rahasia Meede’ dari unsur-unsur ‘matters of the heart’ yang jadi kekuatan Jane Austen, dan juga ternyata…aku nggak bisa hidup tanpa ‘matters of the heart’ itu, ya tampaknya membaca “Meede” harus dihentikan sebentar biar ‘hatiku’ bisa diremas dan dipijat. (Plus my latest crush, James McAvoy main jugaaa….)

Ternyata, Anne Hathaway memberikan penampilan yang lebih dari sekedar sesuatu yang ‘bisa dimaafkan’, walaupun kalau dipikir-pikir lagi sebenarnya ‘cuma’ OK performance aja, nggak wuaaahhh banget (Mungkin penilaian ini juga karena pada awalnya aku menganggap Hathaway akan jadi bencana…). Ceritanya sih, pada usia 20an atau 21an, Jane Austen pernah jatuh cinta sama seorang Tom Lefroy. Sayangnya, mereka sama-sama miskin. Tidak seperti karakter-karakter di cerita-ceritanya yang bisa menemukan cara untuk menikah walaupun sama-sama miskin (Edward Ferrars-Elinor Dashwood, misalnya), Austen hidup di dunia nyata. Dan Tuhan juga bukan penulis seperti Jane Austen yang memberinya happy ending.

Ada jejak-jejak ‘Pride & Prejudice’ di ‘Becoming Jane’, elemen-elemen Mr Darcy di Tom, elemen-elemen Mr Collins, Lady Catherine de Bourgh, skenario Wickham-Lydia….lewat ‘Becoming Jane’, sumber-sumber inspirasi ‘Pride & Prejudice’ jadi terdefinisi, walaupun mungkin bisa tepat, bisa tidak tepat. Tapi, aku jadi ingin mengecek tentang hal-hal detil, apakah Jane pernah berciuman dengan Lefroy, mengingat masa itu begitu sopannya aturan-aturan sosial sementara di situ digambarkan beberapa kali mereka berciuman, berapa kakak laki-laki yang dimiliki Jane sebenarnya, sampai…benarkah Jane merencanakan elopement (kawin lari) dengan Lefroy. Dan, oh ini, sepertinya Jane dan Lefroy nggak butuh waktu lama untuk jatuh cinta dan terikat erat, padahal mereka cuma ketemu beberapa kali, ketika ketemu pun omongannya nggak gitu menggambarkan pertemuan pikiran yang klop seperti digambarkan Jane untuk karakter-karakternya gitu.

Keinginanku adalah menemukan sebuah biografi Austen yang bagus.

Dan keinginan itu terjawab tepat dua hari kemudian, ketika aku tidak sengaja jalan ke QB. (Kenapa cepatnya keinginan yang terkabulkan ini tidak pernah terjadi untuk urusan cowok adalah hal yang di luar kemampuanku menafsirkan…). Dengan harga diskon pula. (Walaupun ada biografinya F Scott Fitzgerald dan JD Salinger juga yang harganya sama-sama diskon 40 persen…). “Jane Austen” judulnya, penulisnya Carol Shields.

Sebenarnya ini bukan biografi ‘resmi’, dalam artian biografi yang diberikan terasa umum, tapi juga cukup spesifik pada beberapa titik. Tidak terasa terlampau akademis, tapi terasa bahwa orang yang mengerjakannya sudah menguasai apa yang akan ditulisnya. Mini biografi, bisa dibilang. Tapi lengkap mencatat perjalanan hidup, impresi Shields terhadap karya-karya Austen, sampai proses kepenulisan Austen. Singkatnya, batu loncatan yang pas sebelum beranjak ke biografi yang lebih ‘akademis’ dan pasti, lebih tebal.

Ternyata, pertemuan-pertemuan Jane dengan Lefroy memang tak sering. Dan ‘Becoming Jane’ ternyata patut dihargai karena tak luput menampilkan detil, tentang kebiasaan Jane dengan piano forte-nya, tentang perbincangan antara Lefroy dan Jane mengenai ‘Tom Jones’, dan ciuman-ciuman itu juga ternyata tak salah.

Tapi dari keduanya, buku dan film, aku jadi sadar, bahwa…walaupun resolusi tahun baruku adalah mengurangi prasangka sebagai seorang pembaca dan keluar dari ‘kolam-kolam nyaman’, tapi aku tidak bisa tidak merencanakan marathon membaca Jane Austen setelah ‘Meede’ selesai. (Bisa dihitung sebagai detoksifikasi ‘Meede’ kali ya…)

Dan sekarang, dalam dua hari selesai ‘Persuasion’ (ya emang mungkin naturenya penyuka cerita cinta ya…), dan sekarang lagi membaca ‘Northanger Abbey’. Resolusi tambahan juga, tahun ini harus menyelesaikan ‘Mansfield Park’ deh, satu-satunya yang nggak aku baca karena heroine-nya, Fanny Price, paling ‘berbeda’ dengan karakter-karakter Austen lainnya.

‘Persuasion’, tunggu ya resensinya.

Popularity: 29%

Andrea Hirata di “Kick Andy”

Thursday, September 27th, 2007

Rabu (19/9) lalu, penulis tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata, hadir di studio Metro TV untuk pengambilan gambar program acara ‘Kick Andy’. Tema acaranya sebenarnya tentang buku-buku yang menginspirasi, jadi ada beberapa penulis lain selain Andrea di sana, tapi mereka kebanyakan memang menulis di genre self-help/inspiration.

Cukup lama pengambilan gambarnya, sekitar dua jam. Tapi sebagian besar porsi waktunya memang ditujukan untuk Andrea. Kalau tidak salah, edisi ini akan ditayangkan 3 Oktober mendatang. Tapi, karena aku sempat datang ke sana, ini ada laporan pandangan mata (dan catatan) dari jawaban-jawaban yang diberikan Andrea.

Awalnya, ia menceritakan tentang buku Laskar Pelangi yang dalam seminggu sudah cetak ulang itu. Ceritanya tentang memoar masa kecilnya dengan sahabat-sahabatnya yang dijuluki Laskar Pelangi oleh Ibu Muslimah, atau Ibu Mus, guru sekolahnya. “Segala sesuatu tentang buku ini emosional sekali,” kata Andrea. Kondisi sekolahnya amat sangat menyedihkan, jika malam digunakan untuk menyimpan ternak. Seragam anak-anaknya, copot semua kancing bajunya. Selain itu, sepatu mereka menggunakan plastik.

Andrea juga bercerita tentang bagaimana Laskar Pelangi ini mulai bersahabat, bahwa mereka adalah sepuluh anak yang mendaftar di sebuah sekolah, SD Muhammadiyah, yang awalnya sudah mau ditutup karena kekurangan murid. Lalu cerita berlanjut tentang bagaimana mereka terus bertahan di sekolah dengan kondisi mengerikan itu dan terus bersahabat. “Ini sebenarnya sekolah yang hampir bubar, ketika ujian, kami dititipkan di sekolah lain. Secara administrasi, sekolah itu hampir tidak ada,” tambah Andrea.

Pertanyaan berlanjut pada hari pendaftaran sekolah itu, persis seperti bab pertama Laskar Pelangi “Sepuluh Murid Baru”. Hari sudah siang, tapi murid yang mendaftar belum genap sepuluh, padahal kalau tidak mendapat sepuluh murid maka sekolah ini akan bubar. Di saat-saat kritis, muncullah murid yang mau mendaftar, seorang pemuda bernama Harun yang memiliki keterbelakangan mental dan menderita polio. Belitung, menurut Andrea, tidak memiliki fasilitas sekolah luar biasa. Oleh ibunya, Harun lalu dititipkan di sekolah, sebagai alternatif daripada mengejari ayam-ayam piaraan keluarganya.

Tekad Andrea untuk menulis buku ini muncul saat suatu hari, di tengah hujan yang lebat, kelas bocor, Ibu Mus, perempuan perkasa itu, tidak segera datang. Murid-muridnya sudah ketakutan. Sampai akhirnya Andrea merasa legaaa sekali ketika melihat Ibu Mus datang berpayung pelepah pisang. “Satu hari nanti, saya harus menulis tentang beliau,” tegasnya. Tapi Andrea juga menegaskan, walaupun dasarnya adalah sebuah memoar, tapi ada fiksionalisasi yang terjadi. Ia menyebutnya sebagai ‘memoar yang dikemas dengan sastra dengan tambahan latar belakang sosio-kultural’.

Andrea juga secara spesifik berbicara tentang kawan sebangkunya, Lintang, yang dalam buku harus bolak-balik sejauh 80 km menggunakan sepeda yang sadelnya terlalu tinggi ‘hanya’ demi ke sekolah. Lintang, dalam penilaian Andrea, adalah anak yang sangat cerdas. Andrea selalu berusaha setengah mati mencoba menyaingi Lintang, tapi selalu jadi nomor dua. “Nomor duanya abadi,” tambahnya. Andrea mengaku bahwa sepanjang hidupnya, ia terinspirasi oleh Lintang. “Seluruh hidup saya sebenarnya adalah balas dendam kekecewaan atas nasib Lintang. Saya tahu betuil kapasitas kecerdasan Lintang. Dia sebenarnya yang ingin sekolah ke Perancis. Saya belajar sampai jungkir balik karena tidak sepintar Lintang agar bisa sekolah ke sana,” kata Andrea.

Lintang harus berhenti sekolah karena ayahnya meninggal. Sebagai anak laki-laki tertua dalam keluarga, kewajiban mencari nafkah akhirnya tertumpu padanya. Padahal ayahnya harus menanggung hidup 14 nyawa. Terakhir kali bertemu Lintang, ia bekerja sebagai supir truk di sebuah daerah eksploitasi pasir gelas.

Andrea mengakui bahwa ‘Laskar Pelangi’ bukanlah sebuah buku yang berakhir bahagia, tapi realistis dalam menggambarkan kisah dan nasib orang Indonesia kebanyakan. “Saya menulis tentang konteks, bukan sekedar peristiwa. Tentang interpretasi fenomena dan hidup senyatanya, seadanya. Dan ini yang identik dengan nasib banyak orang. Ini mungkin ‘feel’ yang didapat pembaca,” ujar Andrea. Buku ini, menurutnya, tak terpaku pada tren metropop atau isu urban dan hedonistik, tapi masuk pada esensi kepribadian orang sehingga pembaca mempersepsikan dirinya sendiri pada karakter-karakter di dalam buku.

Sumber energinya yang terbesar dalam menulis buku ini adalah kecintaan Andrea pada Ibu Mus, sang guru. Bahwa pelajaran terpenting yang diberikan Ibu Mus adalah integritas dan cinta. “Beliau selalu bisa menghubungkan hal-hal kecil dengan substansi yang lebih besar,” kata Andrea. Saat kelasnya banjir akibat air hujan yang masuk lewat atap bocor, anak-anak Laskar Pelangi itu mengeluh, tapi Ibu Mus kemudian menunjukkan sebuah gambar di buku bahasa Belanda yang memuat foto sel Soekarno di Banceuy. “Lihatlah ruang yang suram ini, tapi Pak Karno terus belajar, membaca buku, dan dia adalah salah satu orang paling cerdas di negara ini,” Andrea menirukan Ibu Mus. Kebajikan-kebajikan yang diajarkan oleh Ibu Mus bukan sesuatu yang dikhotbahkan, tapi ia lakukan dengan memberi contoh.

Adalah sesuatu yang wajar, menurut Andrea, untuk menulis buku seperti ‘Laskar Pelangi’ jika kita bertemu dengan karakter seperti Ibu Mus, diajar oleh guru seperti beliau. Karena beliau memang guru yang luar biasa.

Yah, sekian dulu laporan dariku. Masih penasaran dengan episode lengkapnya, tunggu siarannya ya.

Popularity: 100%

Wawancara Tracy Chevalier

Thursday, August 30th, 2007

Pernah dengar novel-novel historis seperti “The Girl with the Pearl Earring” atau “The Lady and the Unicorn” atau “The Virgin Blue” dan “Falling Angels”? Penulisnya namanya Tracy Chevalier. Empat novelnya itu sudah diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia oleh Gramedia. “The Girl with the Pearl Earring” juga sudah dibuat filmnya dengan aktris Scarlett Johannson sebagai Griet.

BBC ternyata punya banyak anak situs. Salah satunya “Blast“. Isinya semua tentang tips-tips dan diskusi tentang menulis bagi penulis muda. Salah satu rubriknya, People, menampilkan wawancara dengan berbagai penulis dan penulis skenario. Tracy Chevalier termasuk salah satu di antaranya.. Wawancaranya cukup informatif, ditanyakan langsung oleh pengunjung situsnya.

Salah satu kutipan yang menarik:

Blast_Host: Here is Tracy with a few final words of advice…

Tracy Chevalier : Usually they say write what you know about, but I don’t agree with that. I think you should write what interests you. Write about what inspires you and go and find out about it.

Selamat membaca dan menulis!

Popularity: 13%

Wawancara S.E. Hinton, Penulis “The Outsiders”

Monday, June 4th, 2007

Dari judul bukunya saja sudah terasa sekali deh kalau ini memang bacaan buat young adult (YA). Sayangnya, aku belum pernah membaca versi bukunya, walaupun sudah pernah nonton versi filmnya yang disutradarai ama Francis Ford Coppola. Filmnya keluar 1983, but hey, please relax, aku nggak nonton film itu pas baru keluar kok. Tapi beberapa puluh tahun kemudian, pernah ditayangin di televisi.

(more…)

Popularity: 11%