The Jane Austen Book Club (Karen Joy Fowler)

1 comment isyana — March 22, 2008 / 6:31 am

Sebuah buku yang bisa memuat kalimat ini: “Austen can plot like a son of a bitch!” adalah sebuah buku yang cukup oke, menurutku. Alasannya, itu pembelaan paling kreatif tentang Austen yang pernah aku dengar atau baca.

Secara keseluruhan, seperti judulnya, buku ini bercerita tentang sebuah klab buku di Sacramento yang membahas tentang “All Austen, all the time”. Isinya ada enam perempuan, Bernadette yang paling senior, pelaku yoga dan sering bicara tanpa arah tujuan yang jelas. Sylvia yang baru bercerai setelah pernikahan duapuluhan tahun, Allegra anaknya yang lesbian (percayalah, ini aku sebut karena di buku juga dijadikan poin secara jelas), lalu Jocelyn, sahabat masa remaja Sylvia yang tak menikah dan membiakkan anjing-anjing ras. Ada juga Prudie, si guru bahasa Perancis yang kepribadiannya rumit dan Grigg, satu-satunya laki-laki dan dianggap misterius oleh anggota klab buku lainnya.

Klab buku ini bertemu setiap sebulan sekali dan selama enam bulan ke depan, setiap anggota bergiliran jadi tuan rumah membahas satu judul. Mulai dari Emma sampai terakhir Persuasion. (Kalau aku jadi anggota klab buku ini, pertemuan untuk buku mana ya yang mau aku pilih? Pride and Prejudice sepertinya terlalu umum. Dan setiap anggota pasti saling berebut judul itu. Persuasion? Mungkin. Aku suka Captain Wentworth. Sense and Sensibility mungkin. Atau Northanger Abbey. Jelas tidak Mansfield Park, karena masih belum selesai membacanya. Dan Emma is a snob).

Dari segi plot buku ini sendiri, aku butuh ekstra mengingat-ingat dan mencocok-cocokkan dengan plot di novel-novel Austen, karena ada kesamaan tapi amat sangat subtil. Dan terlalu banyak simbolisasi. Mungkin aku harus membacanya kedua atau ketiga kalinya. Tapi, yang menarik dari buku ini adalah, sebagai pembaca Austen, aku biasanya tidak terlalu ambil pusing dengan ‘pertanyaan-pertanyaan klab buku’ seperti yang dibahas di sini.

Ternyata, aku bisa (terbantu) sampai di beberapa kesimpulan: 1. Aku suka Charlotte Lucas. Beberapa kali membaca Pride and Prejudice, dan menonton versi filmnya, aku sering marah pada Charlotte. Karena ia tidak cukup berani menyendiri dan memilih menikah dengan seorang pria sombong seperti Mr Collins. Karena ia menikah dengan Mr Collins. Mr Collins! Tapi apa yang dilakukan Charlotte, caranya dia memilih jalan hidupnya sendiri—walau tidak sesuai dengan penilaian Lizzie—butuh suatu keberanian, dan aku menghormati itu. She’s still the wise and smart woman that she is, dan dia mempertimbangkan peran sebagai anak perempuan yang ingin meringankan beban orangtuanya dengan menikahi Mr Collins. Elizabeth Bennett adalah mahluk yang menarik, tapi Charlotte Lucaslah yang aku hormati. 2. Aku mulai mempertanyakan kenapa Emma berakhir dengan Mr Knightley? Maksudnya, perbedaan usianya, minat, temperamen, dan cara mereka tumbuh besar bersama-sama (sejak Emma kecil dan Mr Knightley yang sudah dewasa), aku nggak bisa membayangkan apa yang terjadi sesudah ceritanya berakhir. 3. Aku mulai percaya bahwa Marianne yang berakhir dengan Colonel Brandon di Sense and Sensibility lebih karena didorong oleh ibu dan kakaknya, daripada rasa cinta yang tumbuh. 4. Hero favoritku ternyata bukan Mr Darcy, walaupun sepertinya aku stuck dengan tipe itu di kehidupan nyata, tapi masih seri antara Henry Tilney (Northanger Abbey) dan Captain Wentworth. Henry Tilney, karena dia pria yang menyenangkan, lucu, cerdas, sociable, sopan dan bijaksana, semuanya sejak pertama. Bandingkan dengan Darcy yang pertamanya jutek dan baru ‘berubah’ menjelang akhir. Wentworth karena, ah, aku selalu suka ide-ide cinta lama bersemi kembali (hehehe) dan surat yang ditulisnya buat Anne Elliott itu lho. Such a letter was not soon to be recovered from, tulis Jane Austen. Oh, how so true.

Hmm, memulai sebuah klab buku Jane Austen mungkin bukan ide yang buruk.

Sebagai penutup, izinkan aku meminjam kutipan dari Martin Amis tentang karya-karya Jane Austen yang pernah dimuat The New Yorker dengan judul Jane’s World:

Jane Austen is weirdly capable of keeping everybody busy. The moralists, the Eros-and-Agape people, the Marxists, the Freudians, the Jungians, the semioticians, the deconstructors—all find an adventure playground in six samey novels about middle-class provincials. And for every generation of critics, and readers, her fiction effortlessly renews itself.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Franny and Zooey (JD Salinger)

1 comment isyana — March 22, 2008 / 6:28 am

Holly Golightly dalam versi film Breakfast at Tiffany’s mengatakan pada karakter Paul Varjak, setiap kali dia got the mean reds, tujuan pertamanya adalah Tiffany’s.

(Paul Varjak: The mean reds, you mean like the blues? Holly Golightly: No. The blues are because you’re getting fat and maybe it’s been raining too long, you’re just sad that’s all. The mean reds are horrible. Suddenly you’re afraid and you don’t know what you’re afraid of. Do you ever get that feeling? Paul Varjak: Sure. Holly Golightly: Well, when I get it the only thing that does any good is to jump in a cab and go to Tiffany’s. Calms me down right away. The quietness and the proud look of it; nothing very bad could happen to you there. If I could find a real-life place that’d make me feel like Tiffany’s, then - then I’d buy some furniture and give the cat a name!)

Tiffany’s berada ribuan mil dari tempatku berada. Jadi tidak akan membantu juga untuk pergi ke Tiffany’s sementara ‘ancaman’ mean reds-nya ada di sini, sekarang. Dan menonton DVD juga bukan aktivitas yang bisa dilakukan di mana-mana. Jadi, Tiffany’s-ku adalah Franny and Zooey. Portabel, bisa dibaca di bis, dibolak-balik juga gampang, dan memenuhi kebutuhan.

Resikonya? Ya aku jadi tipe pembaca yang dibenci Salinger.

Aku menenteng-nenteng Franny and Zooey kan tidak ada bedanya dengan Franny menenteng-nenteng The Pilgrim Continue His Journey kan? Padahal yang coba ‘ditentang’ Salinger lewat Franny and Zooey (jika Salinger mau mengakui dia punya misi) adalah sebuah cult berbau-bau mistisisme keagamaan (setidaknya itu yang muncul di halaman 33). Tapi, dari caraku menenteng-nenteng dan ‘menziarahi’ buku ini, Franny and Zooey sudah jadi sebuah institusi cult tersendiri. Salinger hanya menginginkannya sebagai sebuah cerita cinta dalam bentuk home movie. (Mungkin ini sebabnya cerita-cerita Salinger selalu ingin difilmkan, karena ia sudah filmis sejak dalam bentuk tulisan. Setiap set director, sutradara, costume director, make-up artist, penyunting, penulis naskah bisa langsung bekerja dari naskah-naskah Salinger).

Kisahnya sederhana. Tentang proses breakingdown-nya seorang mahasiswi/aktris teater cantik dan pintar (in a genius kind of way) berusia 20an akibat…kehilangan kepercayaan akan kemanusiaan mungkin singkatnya. Bukan sekadar tentang baik dan buruk sifat seseorang, tapi lebih pada ketulusan orang-orang di sekitarnya dalam berkarya. Franny Glass mencoba mencari tahu apa arti egois, ego, tulus, dan apa yang ‘seharusnya dilakukan’ dengan karya. Dan ia tiba di kesimpulan-kesimpulan yang membuatnya mengalami depresi itu.

Zooey, kakaknya, juga seorang aktor. Bagian kedua buku inilah yang menggambarkan lebih banyak tentang antidot yang diberikan Zooey pada adiknya. Itu singkatnya. Tapi bagian inilah yang membuatku terus-terus membolak-balik dan mencoba mengambil pelajaran. Kesimpulan akhir yang ditawarkan Zooey (berdasarkan ajaran kakak-kakak mereka, Seymour dan Buddy) bisa jadi kesimpulan paling indah, paling melegakan yang pernah aku temui dalam sebuah buku.

Keluarga Glass adalah…aku nggak tahu apakah mereka adalah keluarga favorit Salinger, tapi keluarga ini paling sering diulik oleh Salinger dalam karya-karyanya. Ada referensi-referensi ke Seymour dan Buddy yang mengenalkan Franny dan Zooey pada standar-standar spiritual yang tinggi dan, mereka menuduh, mengubah keduanya jadi sejenis circus freak. “Rumah ini terlalu penuh dengan hantu,” umpat Zooey di buku itu. Seymour pada masa itu sudah lama meninggal karena bunuh diri, Buddy tinggal seperti seorang pertapa di sebuah rumah di hutan tanpa sambungan telepon. Hantu keduanya memang terasa kuat di rumah masa kecil yang jadi tempat pengungsian Franny di saat-saat depresinya. Dalam kutipan-kutipan yang mereka kumpulkan dan dicatat di balik pintu kamar, dari buku Pilgrim yang ditenteng-tenteng Franny, sampai percakapan Franny dan Zooey. Terutama ya referensi atas kondisi yang membuat Franny (dan Zooey) berada pada kondisi mereka sekarang.

Aku sudah membolak-balik buku ini selama 5 tahun terakhir dan masih banyak lapisan karyanya yang belum tercerna dengan baik. Setidaknya belum habis dicerna. Masih ada cadangan-cadangan bahan yang bisa mengaduk emosi. Bahkan sampai detil-detil terkecilnya. It’s that great a work, I think. Aku cukup yakin, aku bukan satu-satunya orang yang menjadikan buku ini sebagai sebuah institusi cult deh.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Siapa yang Tidak Tahu Arti ‘Nestapa’?

Comments isyana — February 9, 2008 / 8:39 pm

Anak-anak sekarang banyak yang tidak tahu artinya ‘nestapa’ ternyata. Ini menurut vokalis band “White Shoes & The Couples Company” Aprilia Apsari (Sari) dalam sebuah sesi wawancara, Jumat (1/2) lalu.

Setidaknya pertanyaan tentang arti kata ‘nestapa’ dalam ungkapan ‘gelombang nestapa’ yang ada di lagu ‘Senandung Maaf’ kerap muncul di halaman Friendster atau MySpace milik White Shoes . “Masak anak jaman sekarang nggak ngerti ‘nestapa’ apa, kan sedih banget. Nestapa, masak nggak ngerti sih? Guru Bahasa Indonesianya patut dipertanyakan tuh,” kata Sari.

Dan aku pun agak nggak percaya, masa arti kata ‘nestapa’ mulai tidak diketahui sih? sambil ke kamar dulu mengambil KBBI. Walaupun aku agak ragu, apa ini KBBI yang ‘orisinal’, kok kayaknya kurang ‘Besar’ dan beda sama yang di kantor..

Tapi, yeah, ini dia:

nestapa kb. kesedihan yang mendalam; gunda hati

Pertanyaan awalnya pada mereka adalah tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik, benar, dan sedikit agak kuno di lirik-lirik lagu mereka. Aku tanyalah, gimana caranya menghidupkan gaya pengungkapan yang seperti itu. Kalau dari segi musikal, cara mereka menulis lirik dan memilih kata kebanyakan bersumber dari lagu-lagu lama dengan lirik bagus.

Sari mencontohkan, “Kayak lagu-lagunya Ismail Marzuki, di lagu ‘Juwita Malam’, cuma nyeritain berpisah di Jatinegara aja kayaknya romantiiiss banget. Dan mereka menghindari kalimat ‘aku cinta kamu’. Tapi kita tahu dari lagu itu mereka sangat menyayangi satu sama lain. Dibuat berkelok-kelok, itu yang menjadi ciri khas lirik lagu lama, ya ini salah satu pengaruh di lirik juga.”

Tapi ada pula saatnya White Shoes menggunakan lirik-lirik lugas. “Seperti Chandra Darusman di lirik-liriknya ‘Indahnya Sepi’ itu kan benar-benar harafiah. Ya udah, enakan bujangan daripada banyak masalah, punya cewek, kayak gitu, tapi pencarian kata-katanya itu indah,” tambah Sari.

Yang menarik, mereka juga sampai membuka novel-novel pop di era 1970an demi memperkaya kosakata bahasa dan cara pengungkapan. “Novel pop sekarang kan lebih banyak yang pake bahasa slang. Kalau dulu tuh bener-bener bahasa Indonesia, di novelnya NH Dini aja, hujan aja dibilangnya detaiiill banget. Nah gitu deh, pendetilan itu yang kita ambil. Lebih deskriptif. Jadi kalo biasanya orang dengerinnya pakai walkman, sendirian, dia pasti mengkhayal. Nah itu yang berusaha kita ambil di lirik,” kata Sari.

Yusmario Farabi atau Rio (gitar akustik) mengatakan bahwa novel pop pun memengaruhi cara mereka memilih kata. “Biar kata yang dipakai nggak itu lagi-itu lagi. Dan juga kalau novel-novel lama itu susunan katanya nggak selalu SPOK, bisa dibalik-balik. Lucu aja. Buat pribadi kita juga perlu sih untuk memperkaya bahasa dan ketika diterapin ke lirik ada efeknya. Jadi kita tahu, oh ada kata ini yang bisa digunakan juga. Nggak cuma cinta lagi-cinta lagi,” kata Rio.

Saat ini, penggunaan kosakata yang ada di musik pop Indonesia, mereka nilai mempersempit referensi bahasa anak muda jaman sekarang. “Di jaman sekarang nih, di tengah musik begini banyak, tiba-tiba ada orang yang pakai kata-kata kayak gitu selain kita, kita bakal seneng banget karena bagus berarti, orang Indonesia pakai bahasa Indonesia yang benar,” kata Sari.

Hmm, sekarang, waktu mengetik posting ini, lagi hujan deras sekali di rumah. Aku jadi mengingat-ingat, di mana ya menaruh “Pada Sebuah Kapal”? Sudah terlalu lama buku itu tidak dibalik-balik…

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Marlon Brando

1 comment isyana — February 9, 2008 / 8:00 pm

Beberapa hari menjelang akhir 2007 dan beberapa hari setelah akhir 2007, aku mengisi hari-hari (tsaahh..) dengan menonton DVD film-film Marlon Brando. ITC Ambassador punya peran (sangat) besar dalam pengenalanku terhadap ikon-ikon budaya pop. Di situlah aku menemukan sebuah set DVD yang isinya lima film-film ‘utama’ Brando, “On the Waterfront”, “Mutiny on the Bounty”, “Viva Zapata”, “A Streetcar Named Desire” dan “Desirée”.

(Aku nggak yakin sih “Desirée” bisa dibilang sebagai film ‘utama’ Brando, tapi itu film menunjukkan betapa tidak konyolnya Brando sebagai seorang aktor, sampai-sampai dia bisa memerankan banyak tokoh karismatis [kharismatis ?] nyata atau pun imajiner, dan kita nggak meragukan dia sebagai sosok-sosok itu. Mulai dari pemimpin revolusi Emiliano Zapata, Julius Caesar, Mark Antony [ini versi imdb.com lhoo] sampai, tentu saja, Don Vito Corleone)

Awalnya, waktu memikirkan alur posting ini, aku ingin memulai dari ‘Kartun Peradaban’-nya Larry Gonick–yang aku yakini jadi buku pertama yang diselesaikan tahun ini, tapi ternyata enggak–dan menghubungkannya ke Brando. Di ‘Kartun Peradaban’, Gonick memberikan gambaran runtun dan panjang tentang evolusi manusia, dari yang punya ciri ‘kebinatangan’ sampai akhirnya jadi manusia cerdas. Dan ketika aku melihat sosok Brando, ternyata evolusi itu jadi seperti sebuah proses yang nggak gitu berguna, karena ternyata kita (atau mungkin aku ya?) tetap menginginkan adanya sisi-sisi animalistik itu muncul pada seorang pria (ngguanteng).

Tapi, ini, jika ada satu ciri utama yang digunakan dalam menggambarkan sosok Marlon Brando, maka ciri itu adalah ‘kebinatangan’. Karakter Stanley Kowalski di dramanya Tennessee Williams, “A Streetcar Named Desire”, contohnya. Stanley Kowalski adalah peran yang sangat melekat pada Brando, bukan hanya karena ia memerankannya pada pementasan teater di panggung, tapi diabadikan pula di seluloid film berjudul sama. Beginilah cara Stanley Kowalski, dalam naskah Tennessee Williams, digambarkan:

“He is of medium height, about five feet eight or nine, and strongly, compactly built. Animal joy in his being is implicit in all his movements and attitudes. Since earliest manhood the center of his life has been pleasure with women, the giving and taking of it, not with weak indulgence, dependently, but with the power and pride of a richly feathered male bird among hens.”

(Dan buku seken “A Streetcar Named Desire”-ku sampul depannya adalah Brando yang sedang telanjang dada, memamerkan ‘animal joy’ yang implisit itu…)

Di “Movie Love in the Fifties”-nya James Harvey, sutradara Elia Kazan–yang menyutradarai Brando di “On the Waterfront”, “Streetcar” dan “Viva Zapata”–mengomentari Brando:

“Brando, he said, was the only actor genius he’d ever known–it was “like directing some genius animal.” And indeed Brando’s face does have an animal sort of inadvertence–the undefended expressiveness that goes with not being able to make a face, the way people (and actors) do.”

Ya, jika ada yang ingin menjadi aktor hebat seperti Brando–dan, let’s face it, aktor mana yang tidak lepas dari Brando?–maka mungkin ini saat yang tepat untuk menyumpah-nyumpahi evolusi. Cara sebuah aktor hebat dibuat ternyata dengan mempertahankan animalistik yang disisihkan oleh jutaan tahun evolusi, hehe.

Ada sesuatu lagi yang aku dapat dari Brando lewat bukunya James Harvey itu. Bahwa aku ternyata tidak bisa lari dari Salinger dan Holden. Di buku itu sebenarnya Harvey berfokus pada pergerakan karakter perempuan dari film-film noir 1940an ke melodrama 1950an. Dari perempuan-perempuan femme fatale, ada pergeseran nilai karakter perempuan menjadi lebih polos dan pirang, kemudian menjadi lebih muda dan seksi secara tradisional. Tapi Harvey juga memetakan adanya perubahan nilai pada karakter laki-lakinya, dari yang berusaha dewasa dan berakting seperti orang dewasa menjadi karakter-karakter boy-men yang gagal menjadi orang dewasa. Brando memerankan beberapa tipikal karakter ini lewat “On the Waterfront” dan “Streetcar”.

“Brando’s Stanley felt at times like the kind of explosive truthteller the culture will occasionally produce just when the cant and banality seem most unchallengeable, someone who cuts through all the bullshit and to hell with it.

But of course he only felt like that to us: even in Brando’s person he was too mean and stupid, and still to much William’s rough-trade nightmare, to really be that figure. The one who was for most of us was in a book, not a play or movie: it was Salinger’s Holden Caulfield in The Catcher in the Rye (1951)….

Holden’s obsession with “phonies”, wonderfully comic and entirely serious, both echoed and gave a rich, special voice to the very American concern with personal authenticity, with the sort of plainness and directness and honesty of character that we wanted to think of as ours–or at least as potentially ours. And it was such an enlivening voice–in spite of fundamentally depressed view it took of us, of our contemporary lives, and of American culture in general. “Nothing is more exhilarating than philistine vulgarity,” says Nabokov (also a Salinger fan) in his afterword to Lolita, another seminal text of the time. And The Catcher in the Rye seemed to capture both the vulgarity and the exhilaration as no one had before–or perhaps has since (except for Lolita).”

Oke, pertama, aku baru tahu kalau Nabokov ternyata penyuka Salinger. Tapi siapa yang bisa kebal terhadap pesona Salinger coba? (Really, I want to meet that person) Dan kedua, kayaknya nggak guna juga ya mencoba keluar dari kolam nyaman Salinger seperti resolusi pembaca tahun baruku itu, karena ketika aku memulai dari topik yang sangat tidak Salinger (Hollywood maksudnya…) lalu meloncat ke Tennessee Williams, eh kok ya tahu-tahunya ketemu lagi dengan Salinger dan Holden.

Mungkin juga karena aku melihat ke periode 1950an dan ada kesamaan nilai ‘boy-man’ yang merajai budaya pop saat itu sih..Tapi sepertinya jawabannya adalah, Salinger memang sebeperpengaruh itu.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Northanger Abbey (Jane Austen)

Comments isyana — February 9, 2008 / 6:41 pm

Sebagian dari sistem ingatanku akan menyimpan informasi ini: ‘Northanger Abbey’ adalah novel yang aku selesaikan saat sedang menjalani tugas piket hari Jumat terakhir sebelum kematian seorang mantan presiden.

Sebelumnya sih, waktu menimbang-nimbang untuk membawa buku ini sebagai pengisi waktu, aku agak bertanya-tanya, pas nggak ya tema komedi romantik berbalut parodi novel Gothic untuk berjaga di rumah sakit? Tapi aku sudah mulai penasaran dengan cara Austen menyimpulkan kisah Catherine Morland, karakter utama novel ini.

Ini (membaca ulang ‘Northanger Abbey’) masih termasuk efek lanjutan setelah membaca ‘mini’ biografinya Jane Austen dari Carol Shields. Jika bacaan sebelumnya, ‘Persuasion’ adalah karya terakhir yang ditulis Austen (mulai ditulis saat Austen berusia 39, selesai pada usia 40), maka ‘Northanger Abbey’ adalah yang pertama (dimulai pada usia 22, selesai direvisi pada usia 27). Dan, karena ‘Northanger’ ditulis saat Austen berusia relatif lebih muda, maka aura kemudaanlah yang muncul di karya ini. Ringan, tapi tetap bijak.

Karakter utamanya, Catherine Morland, di usia 17, adalah karakter utama termuda yang ditulis Austen. Masih penuh dengan kepolosan dan kecuekan terhadap beberapa hal. Sebenarnya Catherine sudah punya sebuah sistem nilai tata krama tersendiri yang ia percayai, hanya saja masih belum mantap. Kehadiran teman-teman baru seperti kakak beradik Isabella Thorpe dan John Thorpe serta kakak beradik Henry Tilney dan Miss Tilney seperti mewakili dua kutub kesopanan, tata krama, dan kekuatan karakter yang berlawanan.

Kisahnya sebenarnya sederhana saja, seorang perempuan muda bernama Catherine Morland, yang “has been looking plain for the first fifteen years of her life” dan pada usia 17, “look almost pretty”. Kalimat pertama yang digunakan Austen untuk menggambarkan Catherine adalah: “No one who had ever seen Catherine Morland in her infancy would have supposed her born to be an heroine”. Intinya? Catherine adalah gadis yang biasa-biasa saja.

Dia hidup di sebuah desa yang berukuran menengah, tapi tidak ada yang menarik bisa terjadi di situ dan akan terjadi di situ. Tetangga keluarga Morland, Mr dan Mrs Allen akhirnya membawa Catherine ikut dengan mereka ke Bath, sebuah kota tujuan wisata, destinasi spa, keramaian, serta berbagai pesta pada 1800an. Di Bath-lah Catherine bertemu Henry Tilney, pemuda menarik dan sopan yang tidak ia ketahui asal-usulnya, serta Isabella Thorpe, yang ternyata kakaknya, John Thorpe, adalah teman sekolah kakak Catherine. Pada interaksi-interaksi dengan kakak beradik Tilney dan kakak beradik Thorpelah kemampuan Catherine menilai karakter seseorang diuji. Lewat interaksi-interaksi sosial itu pula Catherine berusaha menemukan dan menentukan karakternya sendiri.

Cerita Catherine, ‘Northanger Abbey’, intinya sebenarnya adalah pendewasaan, coming of age. Pendewasaan kan yang terjadi ketika kita mampu menilai, ‘oh, kelompok teman ini akan membawa pengaruh buruk bagiku’, atau berkomentar, ‘ada sesuatu yang bisa aku pelajari dari kelompok teman yang ini’. Walaupun pada akhirnya, kita tetap harus berani membela diri sendiri, to stand up for ourselves, dan yakin pada nilai-nilai kehormatan yang kita pegang.

Salah satu ‘anak’ cerita yang menarik dari ‘Northanger Abbey’ adalah parodinya terhadap novel-novel Gothic. Jadi ceritanya Catherine suka sekali dengan novel-novel misteri yang melibatkan kastil tua dengan segala rahasianya, plot-plot jahat si pemilik kastil terhadap seorang damsel-in-distress. Mungkin saking sukanya, Catherine membayangkan jadi damsel-in-distress itu sendiri, imajinasi liarnya sudah berlompatan ke sana-kemari sebelum akhirnya sebuah peristiwa lumayan pahit menyadarkan Catherine bedanya antara dunia nyata dan novel.

Mungkin karena ‘Northanger Abbey’ juga aku jadi tidak bisa menganggap ‘serius’ novel-novel Gothic seperti ‘Jane Eyre’ atau ‘Wuthering Heights’, jadi menganggap konyol Gothic-isasi dan dramatisasi situasi di dua novel belakangan. Karena aku sudah membaca parodi dari bentuk-bentuk novel seperti itu. (Walaupun, ‘Jane Eyre’ dan ‘Wuthering Heights’ ditulis jauh sesudah ‘Northanger Abbey’. Tapi mungkin tradisi kepenulisan novel Gothic masih terus berlanjut ya..) Mungkin sama seperti, aku nggak bisa lagi menganggap ‘Godfather’ itu film hebat karena merasa terganggu dengan akting Marlon Brando karena sudah lebih dulu menonton parodi dari gaya akting itu (Dr Evil di trilogi Austin Powers contohnya…).

Anyway.

Saat pertama membacanya, aku pikir kekuatan ‘Northanger Abbey’ terletak pada sisi komedinya. Tapi efek kejutnya bisa memudar setelah membaca kedua kali. Jadi, sekarang, aku pikir yang jadi kekuatan ‘Northanger Abbey’ adalah cara Austen mempresentasikan karakter, terutama pada Isabella dan John Thorpe. Bukan pada sosok fisik mereka, tapi pada cara berpikir mereka. Lewat umpatan, ketidakkonsistenan ucapan dan tindakan, atau lewat surat. Catherine bisa menjadi sebuah cermin—setidaknya, aku menjadikannya sebuah cermin—sudah seberapa beranikah aku untuk berpegang pada nilai-nilai yang aku yakini sebagai kebenaran?

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Persuasion (Jane Austen)

1 comment isyana — February 9, 2008 / 6:39 pm

Membaca ulang ‘Persuasion’, aku jadi teringat saat pertama kali membacanya. Lebih karena sebuah upaya menggenapi membaca karya Jane Austen daripada menikmati membacanya sebagai sebuah karya sendiri. Tapi, setelah membaca biografi mininya Jane Austen dari Carol Shields, aku jadi pengen membaca ‘Persuasion’ lagi. Menurut Carol Shields, jika ada sebuah fungsi untuk biografi, itu adalah untuk membantu menjelaskan makna sebuah karya daripada menghidupkan ulang si pengarang. Benarkah? (Mungkin bisa aja ya, biar biografi nggak ‘jatuh’ jadi sebuah buku gosip…)

‘Persuasion’ adalah buku terakhir yang diselesaikan Jane sebelum kematiannya, tapi bersama dengan ‘Northanger Abbey’ diterbitkan sesudah kematiannya. Anne Elliot, heroin Jane di ‘Persuasion’ adalah karakter yang usianya paling senior di antara karakter-karakter Austen lainnya, 27 tahun. Secara kekayaan, mungkin ia hanya bisa disaingi oleh Emma Woodhouse, karakter di ‘Emma’. Tapi, berbeda dengan karakter-karakternya yang lain (kecuali Fanny Price, karena aku belum membaca ‘Mansfield Park’), Anne Elliot tidak sedang mencari seorang (calon) suami. Dia sudah pernah menemukannya delapan tahun lalu. Yang jadi masalah, pertunangan itu dibatalkan karena dikalkulasi akan jadi sesuatu yang tidak menguntungkan dari segi koneksi atau pun materi. Anne akhirnya dipertemukan lagi dengan Frederick Wentworth secara ‘tidak sengaja’ (kalau dari skenario hidup Anne, mungkin bisa dihitung tidak sengaja, tapi hidup Anne kan diatur oleh Jane Austen, jadi ya pastinya ada kesengajaan dari Austen dong…). Frederick Wentworth yang dulunya dianggap biasa-biasa saja itu ternyata, delapan tahun kemudian, sudah menjadi seorang perwira angkatan laut berpangkat kapten. Jadi gimana?

Well, aku tidak akan membocorkan jalan ceritanya. Tapi kalau ada penilaian yang muncul kok materialistis banget sih aturannya mau menikah, hmm…Anne Elliot di sini diceritakan punya ayah bertitel ‘Sir’ yang punya properti rumah sendiri. Dari segi materi, Anne dan keluarganya terhitung mapan dan terhormat. Pernikahan di masa itu memang amat sangat ditekankan pada koneksi serta kesejajaran status dan latar belakang ekonomi. Pasalnya perempuan di saat itu menggantungkan kesejahteraannya pada seorang suami, karena masyarakat tak memberinya pilihan untuk mencari penghidupan sendiri. Bahkan, Kellynch Hall, rumah keluarga Elliot akan diwariskan pada seorang sepupu jauh karena Anne tak punya saudara laki-laki. Sehingga keberadaan suami dengan koneksi yang bagus dan latar belakang ekonomi yang kuat untuk menikah menjadi penting, bukan hanya bagi kesejahteraan hidup si pasangan suami istri, tapi juga keluarga si istri—apalagi jika tak punya saudara laki-laki, seperti Lizzie dan Jane di ‘Pride and Prejudice’—dan bagi status kehormatan mereka selanjutnya. Bukan berarti mereka gila hormat, tapi itu memang aturan sosial di kala itu.

Bagi perempuan-perempuan muda dari kelas sosial yang, tidak benar-benar di bawah sebenarnya, tapi tak seberuntung Elizabeth Bennett misalnya, ada pilihan untuk bekerja sebagai pengasuh (governess) atau guru. Jane Austen sendiri kerap dihadapkan pada pilihan ini karena keterbatasan ekonomi keluarganya dan ia yang tidak menikah. Karakter Jane Fairfax di ‘Emma’ menggambarkan perempuan muda dari kelas sosial yang tidak tinggi tapi juga tidak rendah itu.

Oke, kembali ke ‘Persuasion’. Anne, di usia mudanya, tidak bertindak sendiri. Ada karakter Lady Russell, sahabat mendiang ibunya yang berperan memberi nasihat. Juga ayah dan kakak Anne yang kekurangan rasionalitasnya bisa melebihi karakter Mrs Bennett di ‘Pride and Prejudice’. Ini juga yang terasa beda dibanding karakter orangtua di novel-novel Austen sebelumnya. Irasionalitas pada Mrs Bennett (‘Pride and Prejudice’), hipokondria di Mr Woodhouse (‘Emma’), pasifitas Mrs Dashwood (‘Sense and Sensibility’), dan keabsenan sebagian besar elemen orangtua Catherine Morland di ‘Northanger Abbey’ adalah sesuatu yang cenderung bisa dimaafkan. Tapi di ‘Persuasion, Sir Walter Elliott dan Elizabeth—kakak Anne—adalah ciptaan Austen yang benar-benar berbeda.

Austen jadi lebih cuek menggambarkan sosok keluarga, yang biasanya jadi faktor pendukung utama si heroin, sebagai karakter-karakter yang sama sekali tidak simpatik. Dan yang menyenangkan sebenarnya, kali ini si heroin tak ambil pusing dengan kondisi keluarganya. Mungkin juga karena Austen memberi usia yang lebih matang bagi Anne, sehingga ia bisa memutuskan sendiri pada siapa dia bisa bergantung akan nasihat dalam memutuskan kebahagiaannya. Pastinya nasihat-nasihat itu tidak akan datang dari ayah dan kakaknya sendiri. Dan Anne tampaknya sudah berdamai dengan kenyataan itu.

Plus ada lebih banyak referensi terhadap perwira-perwira angkatan laut, kondisi politik yang sudah mendamai setelah gejolak yang dimunculkan oleh Napoleon. Mungkin tidak terlalu banyak sehingga Austen kerap dituduh melupakan sejarah atau abai terhadap kondisi politik yang terjadi di sekitarnya. Tapi di ‘Persuasion’, referensi itu ada dan dalam kadar yang cukup. Tak berhamburan di mana-mana sehingga ia jadi novel sejarah (and thank God that doesn’t happen) tapi cukup menandakan bahwa Austen cukup perseptif tentang apa yang sedang terjadi. Dan caranya menggambarkan kategori kapal-kapal perang, standar etika yang berlaku di atas kapal, sampai kehidupan istri perwira-perwira angkatan laut, bukan sesuatu yang bisa dinilai sebagai pengabaian terhadap kondisi sosial politik saat itu.

Kematangan usia Austen mungkin mendorongnya menciptakan karakter yang, secara usia, lebih matang dibanding pahlawan-pahlawannya sebelumnya. Dari segi emosi cerita pun terasa sekali betapa ‘Persuasion’ punya ritme dan nuansa keceriaan berbeda dengan novel-novel sebelumnya yang jadi terasa meremaja. Yang konsisten adalah hasrat. Austen tetap bisa membuatku menahan nafas dan membuat jantung jadi berdetak lebih cepat. Baca secara khusus surat yang diberikan Wentworth untuk Anne. Surat itulah yang buatku jadi alasan akan jauh lebih memilih sebuah kisah cinta imajiner dibanding yang lain-lain..

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Memasuki Dunia Jane

Comments isyana — January 21, 2008 / 6:01 pm

Ada beberapa film (atau malah mungkin banyak) yang membuatku jadi lapar membaca. “Becoming Jane” adalah salah satunya. Sebenarnya nggak ada niatanku menonton film ini, walaupun subyek yang diangkat adalah Jane Austen–salah satu penulis favoritku–.

Keengganan menonton itu karena aku nggak habis pikir, gimana bisa seorang Anne Hathaway terpilih memerankan Jane Austen yang, berdasarkan sketsa dan gambaran umum dari teman-teman dan keluarganya, bukan seorang perempuan yang jelita. Tapi karena keringnya ‘Rahasia Meede’ dari unsur-unsur ‘matters of the heart’ yang jadi kekuatan Jane Austen, dan juga ternyata…aku nggak bisa hidup tanpa ‘matters of the heart’ itu, ya tampaknya membaca “Meede” harus dihentikan sebentar biar ‘hatiku’ bisa diremas dan dipijat. (Plus my latest crush, James McAvoy main jugaaa….)

Ternyata, Anne Hathaway memberikan penampilan yang lebih dari sekedar sesuatu yang ‘bisa dimaafkan’, walaupun kalau dipikir-pikir lagi sebenarnya ‘cuma’ OK performance aja, nggak wuaaahhh banget (Mungkin penilaian ini juga karena pada awalnya aku menganggap Hathaway akan jadi bencana…). Ceritanya sih, pada usia 20an atau 21an, Jane Austen pernah jatuh cinta sama seorang Tom Lefroy. Sayangnya, mereka sama-sama miskin. Tidak seperti karakter-karakter di cerita-ceritanya yang bisa menemukan cara untuk menikah walaupun sama-sama miskin (Edward Ferrars-Elinor Dashwood, misalnya), Austen hidup di dunia nyata. Dan Tuhan juga bukan penulis seperti Jane Austen yang memberinya happy ending.

Ada jejak-jejak ‘Pride & Prejudice’ di ‘Becoming Jane’, elemen-elemen Mr Darcy di Tom, elemen-elemen Mr Collins, Lady Catherine de Bourgh, skenario Wickham-Lydia….lewat ‘Becoming Jane’, sumber-sumber inspirasi ‘Pride & Prejudice’ jadi terdefinisi, walaupun mungkin bisa tepat, bisa tidak tepat. Tapi, aku jadi ingin mengecek tentang hal-hal detil, apakah Jane pernah berciuman dengan Lefroy, mengingat masa itu begitu sopannya aturan-aturan sosial sementara di situ digambarkan beberapa kali mereka berciuman, berapa kakak laki-laki yang dimiliki Jane sebenarnya, sampai…benarkah Jane merencanakan elopement (kawin lari) dengan Lefroy. Dan, oh ini, sepertinya Jane dan Lefroy nggak butuh waktu lama untuk jatuh cinta dan terikat erat, padahal mereka cuma ketemu beberapa kali, ketika ketemu pun omongannya nggak gitu menggambarkan pertemuan pikiran yang klop seperti digambarkan Jane untuk karakter-karakternya gitu.

Keinginanku adalah menemukan sebuah biografi Austen yang bagus.

Dan keinginan itu terjawab tepat dua hari kemudian, ketika aku tidak sengaja jalan ke QB. (Kenapa cepatnya keinginan yang terkabulkan ini tidak pernah terjadi untuk urusan cowok adalah hal yang di luar kemampuanku menafsirkan…). Dengan harga diskon pula. (Walaupun ada biografinya F Scott Fitzgerald dan JD Salinger juga yang harganya sama-sama diskon 40 persen…). “Jane Austen” judulnya, penulisnya Carol Shields.

Sebenarnya ini bukan biografi ‘resmi’, dalam artian biografi yang diberikan terasa umum, tapi juga cukup spesifik pada beberapa titik. Tidak terasa terlampau akademis, tapi terasa bahwa orang yang mengerjakannya sudah menguasai apa yang akan ditulisnya. Mini biografi, bisa dibilang. Tapi lengkap mencatat perjalanan hidup, impresi Shields terhadap karya-karya Austen, sampai proses kepenulisan Austen. Singkatnya, batu loncatan yang pas sebelum beranjak ke biografi yang lebih ‘akademis’ dan pasti, lebih tebal.

Ternyata, pertemuan-pertemuan Jane dengan Lefroy memang tak sering. Dan ‘Becoming Jane’ ternyata patut dihargai karena tak luput menampilkan detil, tentang kebiasaan Jane dengan piano forte-nya, tentang perbincangan antara Lefroy dan Jane mengenai ‘Tom Jones’, dan ciuman-ciuman itu juga ternyata tak salah.

Tapi dari keduanya, buku dan film, aku jadi sadar, bahwa…walaupun resolusi tahun baruku adalah mengurangi prasangka sebagai seorang pembaca dan keluar dari ‘kolam-kolam nyaman’, tapi aku tidak bisa tidak merencanakan marathon membaca Jane Austen setelah ‘Meede’ selesai. (Bisa dihitung sebagai detoksifikasi ‘Meede’ kali ya…)

Dan sekarang, dalam dua hari selesai ‘Persuasion’ (ya emang mungkin naturenya penyuka cerita cinta ya…), dan sekarang lagi membaca ‘Northanger Abbey’. Resolusi tambahan juga, tahun ini harus menyelesaikan ‘Mansfield Park’ deh, satu-satunya yang nggak aku baca karena heroine-nya, Fanny Price, paling ‘berbeda’ dengan karakter-karakter Austen lainnya.

‘Persuasion’, tunggu ya resensinya.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

ES Ito, Si Pemasak Rendang

8 comments isyana — January 21, 2008 / 5:23 pm

Baru beberapa hari yang lalu aku selesai men-transkrip (jadinya ‘menranskrip’ ya karena luluh?) rekaman wawancara dengan penulis ‘Rahasia Meede’, ES Ito. Ada beberapa kutipan dari wawancara itu yang cukup menarik.

Aku sempat menanyakan tentang betapa identiknya tokoh-tokoh di ‘Meede’ saat menyuarakan kemarahannya, atau bahkan saat berbicara. Dan ini jawabannya:

“Tafsir pembaca kan boleh-boleh aja. Tapi saya melihat bahwa…saya sepertinya dari dulu membagi tokoh-tokoh saya itu gampang saja. Saya tarik garis lurus antara orang tua yang tamak dan anak-anak muda yang struggle. Saya bagi antara itu saja. Simpel saja. ‘Negara Kelima’ seperti itu, ‘Rahasia Meede’ seperti itu.

Walaupun ada pertentangan antara si Kalek, Batu, Cathleen Zwinckel, Lusi, dan segala macam, yang terjadi di sini adalah ada yang muda berjuang, ada yang tua yang selalu ingin menguasai kembali..berkuasa segala macam. Itu kan problem-problem di Indonesia. Bahwa alih generasi tidak pernah terjadi di Indonesia. Bahwa semuanya omong kosong di Indonesia.”

Oke, oke, oke.

Nadanya berbicara sih biasa-biasa saja. Bersemangat lah. Tapi dari pilihan bahasa dan ungkapan-ungkapannya, aku nggak bisa nggak nanya, kamu sebenarnya marah sama apa sih?

Him: “Saya sebenarnya… kemarahan dalam arti sesuatu yang bersifat personal terhadap republik ini tidak ada saya. Karena saya pikir republik ini tidak pernah memperhatikan saya juga kok. Saya nggak ada urusan dengan Indonesia ini.

Tapi saya melihat bahwa kalau pun kita marah, kita marah dengan potensi-potensi yang menjadi sesuatu yang baik menjadi runtuh di tengah jalan. Kita berbicara tentang reformasi 98 misalnya, tentang apa yang diperjuangkan pada 74, 78, 66, sesuatu yang terhenti di tengah jalan karena saya pikir setiap semua generasi muda, generasi mahasiswa selalu menyemai benih untuk kehidupan yang baik di Indonesia, tapi ketika mereka tua mereka sendiri yang menghancurkan benih-benih yang mereka tanam itu. Itu problem terbesarnya. Bahwa pengkhianat terbesar di Indonesia adalah mereka yang memperjuangkan apa yang mereka khianati sendiri. Saya pikir bahwa kita patut marah terhadap diri kita sendiri di Indonesia, kita jadi pengkhianat akan apa yang kita perjuangkan sendiri.”

(Hmm…sebenarnya dia peduli kan artinya?)

Selanjutnya, adalah pertanyaan yang tidak bisa tidak aku tanyakan ketika bertemu seorang penulis, who’s your biggest influence in writing?

(Orang-orang yang fleksibel mungkin tak selalu menjawab dengan sosok karena tak pernah ada dan menjawab dengan sesuatu yang abstrak, tapi sebenarnya aku lebih ingin tahu tentang siapa atau apa sumber energi terbesar si penulis ketika menulis. Atau mungkin si penulis ini merasa terus berada di bawah bayang-bayang siapa sih…)

ES Ito: “Orang selalu bilang saya terpengaruh dengan Dan Brown. (padahal aku menebak Pram–blogger–). Soal cerita, soal macam-macam, dan saya pikir ada beberapa hal yang mirip dengan Dan Brown tapi saya tidak akan katakan bahwa saya banyak terpengaruh oleh Dan Brown. Misalnya… Mbak suka makanan Eropa nggak? Apa ya, spaghetti, misalnya, itulah Dan Brown. Dia memasak sesuatu yang tidak ada bumbunya, dan itu bumbu lama, tentang masalah agama, masalah apa. Dan dia tidak berasa rempah-rempah kayak kita.

Konteks cerita, mungkin, dari Dan Brown, tapi dia cuma masak spaghetti, minus rempah-rempah, tidak ada bumbu, dan saya sangat tidak suka dengan masakan Eropa. Saya itu masak rendang lho, mbak, penuh dengan rempah-rempah nusantara. Ini suatu kekayaan yang tidak dimiliki Dan Brown. Dia berkutat dengan masalah agama. Saya tidak melakukan itu (menjelek-jelekkan), saya pikir di luar konteks agama jadi masalah peradaban dari dulu, saya pikir orang harus melihat konteks sosial hubungan orang antar manusia dan itu hanya ada pada kebudayaan yang tidak terikat dengan nilai-nilai langit (di sini aku butuh beberapa menit untuk me-rewind, me-fastforward, kebingungan dan merenungkan artinya…–blogger). Saya pikir itulah kekayaan Indonesia. Pengaruh terbesar, seperti Victor Hugo yang bisa mengangkat Perancis lewat Les Miserables dan semacamnya, jauh lebih hebat saya pikir, walaupun cara penceritaannya beda dari saya. Atau Ibunda-nya Gorky. Pram juga dengan Arus Baliknya, juga sangat bagus. Dan juga tentang kemarahan-kemarahan yang sangat bagus disampaikan, saya pikir itu AA Navis jagonya. Saya melihat konteksnya seperti itu. Saya pikir saya melakukan sesuatu yang baru di Indonesia dengna pola penceritaan seperti ini. Saya pikir setiap penulis membangun karakternya sendiri.”

‘Saya pikir’, sepertinya adalah pembuka kalimat favoritnya…

Ini juga pertanyaan yang (pengennya) selalu aku ajukan ke penulis, sutradara, musisi, karena kecintaanku dengan “High Fidelity”. Top 5 books of all time kamu apa?

“Saya sebut satu saja ya, karena lainnya nggak yakin. Ibunda-nya Gorky. Lainnya ragu, saya tidak yakin, setahu saya saya sudah tiga tahun baca dan saya masih yakin itu yang menarik menurut saya. Yang lain kadang bagus, tapi bisa aja tiba-tiba nggak suka. Itu (Ibunda) buku yang berpengaruh tidak langsung ke jantung kekuasaan tapi berasal dari tingkat rumah tangga, perlawanan segala macam itu.”

‘Negara Kelima’, katanya sampai sekarang baru terjual 2500 eksemplar, tapi ‘Meede’ sudah mau naik cetak ketiga kalinya. Buat ‘mencoba sesuatu yang baru di Indonesia’, dia mengakui angka itu cukup bagus. Apa yang bisa dibacanya tentang pasar pembaca Indonesia?

Angka itu sih, menurutnya, adalah reaksi wajar dari pasar, sebanding dengan upayanya mengerjakan buku itu selama dua tahun (”Itu belum cukup, kalau bisa saya butuh waktu empat tahun lagi mengerjakannya…”). Tapi, ‘gerutuan’ lengkapnya:

“Bahkan penerbit pun selalu bilang, pasar penulis Indonesia nggak bisa dibaca. Saya sendiri pesimis ketika menjual karya ini, karena saya pikir ini bukan sesuatu yang layak dijual, ini bukan masalah cinta-cinta dengan akhir bahagia, bukan kisah di mana laki-laki yang bisa poligami tiga orang, bukan juga kisah menguras air mata tentang pendidikan segala macamnya (haha, I think I know siapa yang dimaksud–blogger–), kalau pun ini kejual, ini juga bukan sesuatu menguras air mata. Saya tidak bisa membuat orang menangis. Tapi kita punya urusan dengan sejarah, dengan bangsa Indonesia, tapi kalaupun kejual, saya tidak tahu kenapa kejual.

Tapi seharusnya orang membaca karya-karya seperti ini walaupun tidak seluruhnya benar, kan bisa saja yang ditulis tidak benar. Tapi budaya berpikir tidak tumbuh dari kita terima lalu kita menangis, kita berurai air mata, puja-puji segala macam, kita belajar berpikir dari meragukan sesuatu. Saya pikir ketika orang melemparkan sebuah karya sastra dia harus menimbulkan polemik di masyarakat. Dan tidak melulu masalah seks. Seks saya pikir bukan akar utama dari polemik. Ada hal-hal yang lebih penting daripada seks. Seks, kebebasan, saya pikir itu isu usang yang nggak perlu lagi kita angkat-angkat.”

Tentang kenapa dia memilih menulis sejarah, mungkin kutipan ini bisa kurang lebih membantu menjawab:

“Menulis, pertama, (sumber energinya) rasa ingin tahu. Saya tidak bisa menulis kalau tanpa ada literatur atau konteks yang benar-benar ada. Saya tidak bisa menulis, misalnya, membayangkan sesuatu kisah cinta segala macam, saya bikin konteks yang seperti ini, seperti ini, saya tidak bisa. (Harus ada) Konteks yang benar-benar terjadi, riil yang ada di masa lalu, masa sekarang. Saya belajar menulis karena saya merespon sesuatu ketika saya kuliah dulu. Saya menulis bukan utopia-utopia cinta, damai, segala macam. Saya menulis karena merespon sesuatu yang riil terjadi di masa lalu atau masa sekarang. Jadi energinya ya bisa rasa ingin tahu.”

Tapi di bagian lain wawancara, dia terus-terus mengulang ini tentang menulis (dan entah kenapa, nggak bisa saya keluarkan dari kepala): “Menulis itu respon, respon. Saya pikir respon.”

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Catatan-catatan Kecil dari Rahasia Meede

Comments isyana — January 14, 2008 / 6:19 pm

Sungguh lho. Aku sudah super yakin bahwa buku pertama yang akan aku selesaikan pada 2008 ini adalah Kartun Riwayat Peradaban I. Tapi ternyata, karena tugas kantor yang mengharuskanku mewawancarai ES Ito, penulis ‘Rahasia Meede’ dan ‘Negara Kelima’, aku kebutlah mbaca itu buku.

Sebelumnya, aku menyerah sama buku ini pas di halaman 100an karena ‘keringnya’ itu. Ternyata pas Hari H wawancaranya membacanya baru sampai di halaman 260an, dan akhirnya selesai hari Minggu kemarin. Ringkasan ceritanya, ah itu mah jaket bukunya sudah bisa ngasih ya. Jadi, aku kasih catatan-catatan kecil selama membaca ‘Rahasia Meede’ ya…

  1. Apakah memang ada yang ‘kenapa-kenapa’ dengan standarku atau memang sebuah cerita yang punya latar penelitian sejarah kuat, ketika dibalut dalam bentuk fiksi seperti ‘Meede’, jadi harus ‘mengorbankan’ karakterisasi?

Maksudnya, baik Kalek, Batu, Cathleen, Lusi, Rian, dan banyak lainnya itu memang terasa idealismenya apa, emosi mereka sedang gimana, tapi semuanya karena dikasih tahu si penulis. Ya, oke, memang mereka ciptaan penulisnya, tapi kenapa aku merasa karakter-karakter ini tidak lebih dari potongan kardus sosok manusia (seperti yang dipakai buat iklan produk itu lhooo…) dan ditempeli pamflet.

Dua dimensi aja terasanya, bukan manusia dengan segala emosinya WALAUPUN si penulis mendeskripsikan gamblang apa yang mereka rasakan. Hasilnya, aku jadi tidak peduli dengan apa yang terjadi sama si karakter-karakter ini sebagai manusia.

Yang membuatku masih terus membolak-balik halaman sampai akhirnya selesai, lebih karena teka-teki aja. Dan nggak ada tuh apa-apa yang aku rasakan ketika ada karakternya yang mati. Walaupun karakter-karakternya lagi marah, sedih, bingung, kesal, senang, takut, teriak, hancur, apalah, semuanya dataaaar aja kerasanya. Benar-benar flat. Asystole.

Saking datarnya, sampai-sampai di halaman 520an aku harus berhenti dan ‘do a complete 180′, menghubungkan diri ke sesuatu yang berurusan banyak dengan hati–sesuatu yang lebih aku sukai–nonton ‘Becoming Jane’ (Bukan karena filmnya digarap lebih dengan hati dibanding ‘Rahasia Meede’, tapi karena temanya yang memang berfokus pada emosi manusia. Dan Anne Hathaway ternyata memberi penampilan yang lebih dari sekedar ’sesuatu yang bisa dimaafkan. Tapi oke, akan aku buat posting berikutnya tentang film itu).

Selesai dengan urusan nangis-nangis dan hati yang diremas-remas di ‘Becoming Jane’, kembali lagi dan menyelesaikan ‘Rahasia Meede’ yang datar. Catatan selanjutnya:

  1. Entah di halaman berapa, tapi sepertinya sudah bagian akhir-akhir ketika lokasi berpindah ke sebuah pulau bekas karantina jemaah haji di utara Jakarta (bukan spoiler kan?), aku berpikir: Harus ada orang yang membisniskan paket tur ‘Rahasia Meede’ nih, sama kayak paket tur Da Vinci Code.

Tapi, tiba-tiba aku teringat pada kutipan dari film ‘2 Days in Paris‘. Salah satu karakternya, Jack (Adam Goldberg) ditanyai arah jalan oleh serombongan turis asal Amerika. Jack, yang memang sedang jahat dan tidak tahu Paris, menjawab asal-asalan dengan meyakinkan biar si rombongan turis ini keluar dari antrian taksi. Ketika pacarnya, Marion (Julie Delpy) muncul dan mengetahui apa yang dilakukan Jack, Jack menanggapinya dengan, “They’re here on a Da Vinci Code tour, they voted for Bush and Cheney, they are what’s culturally and politically wrong in this world.” (aku cukup yakin 75 persen dengan kutipan ini)

Marion: “You’re so mean. But that’s so truuueee.”

Hahaha.

Oke, oke, tidak bermaksud mengatakan bahwa Meede akan jadi bagian dari what’s culturally wrong, tapi entah kenapa tiba-tiba aku teringat akan kutipan itu saat memikirkan tentang paket tur Meede seperti paket tur Da Vinci Code.

Walaupun sebenarnya, cerita tentang Meede dan Clusse dan Pieter Erberveld sudah beberapa kali aku dengar saat ikut beberapa kali tur keliling Jakarta Kota. Tapi sekarang ada tambahan info tentang kejadian-kejadian itu.

Yang ketiga….SPOILER ALERTSPOILER ALERT*

  1. Salah satu karakter ‘utama’ kamu matikan, tapi tetap menghidupkan semangat anarkinya lewat meneruskan keturunan? Oh, please. Itu kayaknya trik yang pernah digunakan sebelumnya deh. Memang pengulangan trik di beberapa karya berbeda bukan sesuatu yang haram (atau sebenarnya haram dan kita sering berlindung di bawah ungkapan ‘nggak ada yang baru di bawah sinar matahari’?), tapi pengulangan trik ini tidak membawa efek apa-apa gitu.

AKHIR SPOILER ALERTAKHIR SPOILER ALERT*

  1. Masih tentang karakter. Mungkin seharusnya digabung dengan nomor satu, tapi sepertinya lebih enak dipisah daripada terlalu panjang. Ada yang merasa nggak kalau karakternya, ketika menjadi idealis atau mengungkapkan pikiran-pikiran idealisnya, terasa identik? Bahwa semuanya ES Ito.

Oke, mungkin karakter adalah anak-anak ciptaan si penulisnya, tapi semuanya jadi terasa seperti orang yang sama. Bukan anak malah. Tapi jadi klon.

Kadang, malah, di tengah deskripsi suasana, deskripsi karakter, ada umpatan kekesalan akan zaman yang menyelusup yang membuatku bertanya, ini yang ngomong siapa sih? Ya memang dari penulisnya sih. Dan ini penilaian yang sangat pribadi ketika aku bilang, tolong, jangan menceramahiku dong.

Tapi gara-gara bagian ini juga aku jadi mengerti tentang apa yang dimaksud di bab pertama The Rhetoric of Fiction tentang sudut pandang. Itu buku teknik penulisan pertama yang aku baca, gara-gara Scott Esposito di Conversational Reading membacanya tahun lalu. Aku nggak nyangka ada orang lain yang sudah atau bakal membaca buku itu, karena aku punya buku bekasnya sejak 3 tahun lalu yang belum disentuh-sentuh, hehe. (Dan hey, ternyata dia berencana memrioritaskan ‘The Mill on the Floss’ untuk 2008. He’s MY kinda guy..)

Terakhir, tapi sepertinya mungkin tidak perlu ya…karena kita cukup sepakat kan totalitas ES Ito dalam meneliti bahan untuk buku ini tidak setengah-setengah?

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Tentang Adaptasi dan Jacqueline Wilson

Comments isyana — January 4, 2008 / 9:45 pm

Ada adegan dalam film “You’ve Got Mail“, saat karakter Kathleen Kelly (Meg Ryan), secara diam-diam, datang mengunjungi toko buku raksasa Fox Books milik Joe Fox (Tom Hanks).

Dalam adegan itu, seorang pengunjung bertanya pada penjaga toko, di mana dia bisa menemukan ‘Shoe Books’. Si penjaga toko tidak mengetahui buku sepatu apa yang dimaksud. Lalu karakter Kathleen membantu menjelaskan tentang serial buku yang dikarang oleh penulis Noel Streatfeild ini. Ada Ballet Shoes, Dancing Shoes, Party Shoes, Circus Shoes, Tennis Shoes. Lengkapnya ada di sini. Dari cara Kathleen menggambarkan betapa ia menyukai buku itu di masa kecil, aku jadi penasaran. Penasaran akan bisa atau tidaknya buku ini membuatku merasa sama seperti aku membaca buku-buku masa kecilku yang lain. Secara nggak sengaja, ketemulah buku ini, dan ya…karena tidak ada memori masa kecil yang terekam lewat buku itu, rasanya jadi biasa-biasa saja ketika membaca. Tapi, ternyata, (nah, ini baru beritanya..) BBC merilis versi serial Ballet Shoes yang juga dibintangi oleh Emma Watson (Hermione Granger) dan mendapat resensi kurang begitu bagus dari Shirley Dent di The Guardian. Ah, sepertinya aku jadi ingin membolak-balik Ballet Shoes lagi…

Jacqueline Wilson–penulis Kisah Tracy Beaker, Lizzie Si Mulut Terkunci Pengasuh Mama, Anak-Anak Nakal, Mumi Kucing, Anak Tanpa Rumah, Pesta Menginap, Permainan Tantangan, Buku Harian Lottie, Lola Rose dan Situs Masalah, untuk menyebut beberapa di antaranya–berhak menyandang gelar Dame dari Order of British Empire (OBE). Penulis naskah drama dan cerita pendek Hanif Kureishi dan kreator karakter anak-anak Spot, Eric Hill, juga mendapat pengakuan dari OBE. Julie Eccleshare dari The Guardian menganggap sudah sepantasnya dan sudah saatnya seorang penulis cerita anak mendapat pengakuan OBE, seperti yang sudah banyak diterima penulis cerita dewasa.

Berbicara tentang penulis cerita anak-anak atau mereka yang beranjak dewasa (young adult), harian LA Times menurunkan tulisan tentang tiga penulis yang patut ditunggu karyanya pada 2008. Salah satunya adalah Kelly Link, penulis cerita-cerita fiksi ilmiah untuk anak-anak. Tulisan lengkapnya ada di sini.

Penulis trilogi His Dark Materials, Philip Pullman menulis tentang apa yang membedakan versi film dan versi buku secara umum. (Walaupun mungkin ini juga bertepatan dengan peluncuran versi film bagian pertama His Dark Materials, The Golden Compass). Sudah ada yang membaca dan menonton dan membandingkan?

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL UPDATES

FEATURED POSTS

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

COMMENT

  • dedik — ikut..dong walau gaak menang
  • sayyid — ---UNTUK BUNG HUDAN, Blog ini bukan kepunyaan personal. Tapi, punyanya Asia Blogging Network. Yang mengelola saya sendiri. Salam kenal...
  • Herman Suryadi, S.Pd. — Bung Hudan Hidayat Aku lagi nyusun riwayat penyair - sastrawan kelahiran Bengkulu kotaku. Aku minta dikirimkan biodata/riwayat lengkap anda + ...
  • zulhaiban — iya ya, kenapa wartawan tidak mencantumkan gelarnya disusunan redaksi maupun ID Card wartawannya. Mungkin wartawan tidak ingin diketahui latarbelakangnya kali, ...
  • Sayyid fahmi alathas — Menanggapi buku esai nabi tanpa wahyu hudan hidayat. ...
  • hudan hidayat — iya isyana kamu di multiply juga ya? rame di sana kan. sastra memang untuk siapa saja tak ada patokan. maaf aku ...
  • DARIATI — mau donk ikutan LoMba, waLaupun Tidak Lesbian.... sTidaknYa kita berPartisipaSi sMa Tmen2 YaNg PuNya kElaiNan Seksual......
  • yuliana — houwwww, Q tertarik.... 1 hal Q tny.... yg m'adakan adl skul tinggi agama islam, bleh kah non-i juga ikut?
  • yulyanto — Mba ‘Is, Aku mohon ijin tautkan link URL-nya Mba ini ke blog saya (www.yulyanto.com) yach ????….. Tx-alotz
  • Sayyid fahmi alathas — Seni dalam kaijan ilmiah karya sastra ...