Tahun Baru, Daftar Bacaan Baru

Comments isyana — January 4, 2008 / 9:04 pm

Ya, ya, bukan judul paling kreatif yang pernah aku buat. Kalau Lorelai Gilmore pernah berpendapat, “A movie can’t just be it’s title. Snake on a Plane!” saat mengungkapkan keheranannya, mungkin daging posting tidak bisa hanya judulnya saja. Tapi ya, karena judul itu yang paling pas menyimpulkan isinya, harap maklumlah…

Sebenarnya aku berencana untuk mengecek ulang daftar bacaan tahun lalu, tapi karena penataan kembali dan alfabetisasi buku-buku, daftar itu–yang sebenarnya lebih berupa tumpukan buku-buku yang dibaca tahun lalu–jadi hilang. Tapi, demi blog ini, aku berniat mencatat buku-buku yang rencananya akan dan sudah dibaca.

Oke, resolusi pertamaku sebagai seorang pembaca adalah menjadi pembaca yang tidak berprasangka. Kalau misalnya sebelumnya aku menganggap Raymond Carver terlalu Amerika dan maskulin tanpa pernah membacanya, misalnya, nah pikiran seperti itu harus disingkirkan. Atau kalau aku menganggap para lelaki eksistensialis itu (Sartre, Camus…Sartre terutama..) menyebalkan, nah itu juga tidak boleh. Atau kalau selama ini saya berpegang pada kata-katanya Katherine Anne Porter tentang Erica Jong yang merendahkan harkat perempuan, harusnya ya tidak bisa diterima mentah-mentah saja. Apalagi kalau karya klasiknya “Fear of Flying” masih teronggok di rumah dan belum dibaca. Karya ini ternyata sudah berusia 35 tahun dan oleh John Keenan dari The Guardian dianggap masih tajam. Membaca artikel dan kutipan dari buku itu, aku menebak, Ayu Utami must have been taking a lot of notes from what Jong has been doing…

Tapi selain meminimalkan prasangka, ada area karya beberapa penulis yang ingin aku dalami pada 2008. Jack Kerouac lewat On the Road, lalu karya-karya Joseph Heller (Catch 22, Something Happened), Ken Kesey (One Flew Over Cuckoo’s Nest, Sometimes a Notion), Kurt Vonnegut (Breakfast of Champion, Piano Player), semuanya adalah teritori baru untuk aku jelajahi.

George Eliot (alias Mary Anne Evans) juga. Eliot bisa dibilang setengah baru, karena aku pernah membaca sebagian ‘Middlemarch’, hanya belum selesai, dan rencananya ingin diselesaikan tahun ini, bersama dengan The Mill on the Floss dan Daniel Deronda. Melengkapi membaca repertoar karya-karya Edith Wharton dan F Scott Fitzgerald yang memang sudah disukai pun akan diteruskan.

Dan aku ingin mencoba lagi dengan Gabriel Garcia Marquez. Beberapa minggu sebelumnya, aku sempat melihat Love in the Time of Cholera di Periplus Plaza Indonesia dengan harga yang agak lumayan murah. Yang membuat panik, karena di depannya tertulis: Now A Major Motion Picture. Hah? Kapan mau keluar? Siapa yang mau main?

Nggak rela keduluan oleh versi filmnya, jadi beli deh. Dan sekarang sudah ada di halaman 50an. Lebih baik daripada saat membaca One Hundred Years of Solitude yang selalu berhasil membuat ngantuk.

Jadi, selamat tahun baru! Selamat menyusun daftar bacaan baru!

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Menjelang Akhir Tahun

Comments isyana — December 22, 2007 / 9:28 pm

Minggu-minggu terakhir Desember ini tampaknya waktu yang tepat untuk mengecek ulang daftar bacaan, seberapa jauh kita sudah berjalan membaca buku-buku yang rencananya dibaca di 2007. Seperti posting ini di Conversational Reading.

Scott Esposito, si pemilik Conversational Reading, juga memasukkan daftar lengkap buku yang dibacanya selama 2007 di The Millions lewat post “A Year in Reading“. Tapi The Millions juga punya sederet nama lain yang mencatati buku-buku bacaan mereka sepanjang 2007.

Dan entah kenapa, aku bisa loncat-loncat senang ketemu blog 50 Books. Mungkin karena menemukan ternyata ada pembaca lain yang juga punya target angka yang sama dalam menyelesaikan bacaan dalam satu tahun. Apalagi dengan ’slogan’-nya: ‘One Woman. One Year. Countless Distractions’. Hah! Itu kan aku banget…

Slate juga mendaftar buku-buku terbaik selama 2007 versi pilihan editor dan kontributor mereka. Judul-judulnya (hampir) semua tidak familiar. Tapi, yang membuatku terhenyak, Susan Faludi sudah punya buku baru lagi? Teks feminis-nya, Backlash, saja belum sempat aku buka-buka…

Aku pernah menyitir sebelumnya artikel The New York Times tentang kemunculan pustakawan-pustakawan yang hip. Entah berhubungan atau tidak, tapi sekarang ada blog hiplibrarians, tempat para pustakawan ‘hip’ meresensi buku yang mereka suka. Atau mereka benci.

Selamat membaca.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Berjalan ke Asia Tenggara

Comments isyana — December 21, 2007 / 7:36 pm

Seberapa muda sebenarnya seseorang bisa mulai melakukan sebuah perjalanan? Maksudnya, perjalanan ke luar kota yang sifatnya liburan.

Aku pernah mendengar cerita tentang anak-anak, bayi-bayi bahkan, yang dibawa orangtuanya berlibur sampai ke Amerika hanya untuk tak punya kenangan sama sekali tentang liburan besar (dan mahal) itu. Aku pernah dibawa ke Bali dan beberapa obyek wisata terkenalnya sekitar usia 5 atau 6 tahun. Hasilnya pun kurang lebih sama. Ketika datang ke tempat itu lagi, aku hanya memiliki memori tersamar pernah datang ke situ, tapi tak ada sesuatu yang terasa khusus.

Dengan pilihan yang sadar, aku membeli Lonely Planet’s Southeast Asia on a Shoestring. Sudah sejak setahun aku membayangkan melakukan sebuah perjalanan mengitari Asia Tenggara, minus Phillipina (karena harus melakukan loncatan udara yang agak jauh), tapi tak pernah benar-benar tahu ke mana aku ingin pergi dan tempat apa yang paling ingin aku kunjungi. Apakah kebutuhan melakukan perjalanan sendiri datang seiring usia tertentu, saat kita memutuskan dan merasa sudah (akan) jadi orang dewasa?

Membeli buku ini adalah sebuah pilihan sadar karena tiba-tiba aku merasa butuh melakukan suatu perjalanan yang aku tentukan sendiri tujuan dan lamanya.

L(onely) P(lanet) adalah penerbit yang memang mengkhususkan pada buku-buku petunjuk perjalanan buat mereka yang memiliki anggaran terbatas. Mulai dari sejarah sebuah negara, budaya, satuan mata uang, tempat-tempat yang menarik dikunjungi, sampai hotel (murah) dan tempat makan (juga murah), semuanya lengkap disebutkan. LP ibarat kitab suci bagi para pejalan berkantong cekak.

Indonesia, memang punya banyak tempat tujuan wisata yang sifatnya masih off the beaten track untuk dikunjungi. Tapi dengan buku ini, aku jadi bisa menentukan salah satu masukan dalam daftar “Hal Yang Akan Aku Lakukan 2008″: melakukan perjalanan (murah) ke Laos, Vietnam dan Kamboja.

Jadi, Vientiane, Luang Prabang, Hanoi, Halong Bay, Saigon, Phnom Penh, Siem Reap, Angkor Wat….tunggu aku ya. Duh, jadi tidak sabar melakukan perjalanan lintas negara ini.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Coraline (Neil Gaiman)

2 comments isyana — November 1, 2007 / 7:23 pm

Liburan musim panas sudah tiba. Dan Coraline bosan setengah mati. Ia anak tunggal. Ayah dan ibunya, masing-masing, sibuk bekerja di komputernya. Tetangga Coraline adalah dua mantan aktris yang sudah menua, Miss Spink dan Miss Forcible serta anjing-anjing mereka. Ada juga lelaki tua berkumis yang sibuk melatih tikus sirkus (wow, rimanya boleh juga…). Tapi tak ada dari mereka, kecuali orangtuanya, yang tepat menyebut namanya.

Lalu ada sebuah pintu di rumahnya. Pintu yang tak menuju mana-mana. Hanya ke sebuah dunia alternatif yang memerangkap anak-anak kecil lain dan…kedua orangtua Coraline. Inilah sinopsis “Coraline” karya Neil Gaiman. Iya, ini ternyata Neil Gaiman yang sama dengan yang aku penasaranin novel grafis Sandman-nya itu. Di Indonesia, ternyata lebih banyak novel-novelnya yang diterbitkan Gramedia. Mulai dari “Coraline“, “Neverwhere“, “Anansi Boys“, dan yang versi filmnya mulai masuk bioskop Jakarta minggu-minggu ini, “Stardust“.

Ceritanya sebenarnya mengingatkanku akan berbagai karya lain yang tak melulu buku, “Spirited Away” dan “Pan’s Labyrinth” contohnya. Kesamaannya buatku terletak pada penggunaan dunia alternatif dan penyelamatan orangtua, tapi Gaiman membawa cap kengeriannya sendiri. Mulai dari tangan-tangan panjang berkuku panjang warna merah, mahluk bermata kancing sampai gambaran sosok Miss Spink, Miss Forcible dan lelaki tua versi dunia alternatif. Semuanya mengerikan, semuanya menjijikkan dan membuat gentar. Dan Coraline adalah anak yang berani.

Ini bukan lagi tentang apakah Coraline mampu mengalahkan kekuatan jahat di balik pintu yang tak ke mana-mana itu. Ini masalah bagaimana Coraline mengumpulkan keberaniannya dan bertahan dengan ’senjatanya’ itu. Gaiman, pada akhirnya, memberikan sesuatu yang lezat bagi pembacanya.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Metro Paris, Harper Lee dan Yang Tak Pernah Dibaca

Comments isyana — November 1, 2007 / 6:31 pm

Saat naik bis dan kebetulan beruntung karena mendapatkan tempat duduk, aku akan mengeluarkan buku dan mulai membaca. Tapi saat keberuntungan itu didapat, buku mulai dikeluarkan, eh…tiba-tiba ada genjreng-genjreng mengiringi suara super cempreng dari pengamen bis kota. Coba-coba baca lagi, duh, kok tetap terganggu sih?

Akhirnya, setelah menunggu sampai si pengamen selesai, eh kok berhenti baru setelah enam lagu dan…sudah sampai di tujuan. Arrgghh. Padahal lagi pengen banget melanjutkan membaca. Duh.

Kapan ya Jakarta punya transportasi publik yang membahagiakan buat ‘pembaca angkot’ sepertiku? The Guardian menurunkan artikel tentang bacaan para penumpang metro di Paris. Berdasarkan deskripsi suasana di artikel itu, metro-nya Paris terasa benar-benar seperti surga bagi pembaca. Banyaknya orang yang membaca mungkin juga karena faktor kenyamanan ya? (Tapi katanya suka bau pesing juga? Lha kok tetap banyak yang membaca?)

Penggemar “To Kill a Mockingbird” yang penasaran dengan penulisnya, Harper Lee, bisa deg-degan sampai 5 November nanti. Pada tanggal itu akan Lee akan menerima penghargaan Presidential Medal of Freedom dari presiden George W Bush. Sama seperti Salinger, Lee memilih untuk menutup diri dari dunia luar, tak mau diwawancarai, dan tak lagi menerbitkan karya. (Masih relevankah kalau aku bertanya kenapa?). Jadi, 5 November nanti, akankah Lee keluar dari persembunyiannya? Oh ya, fotonya di artikel The Guardian itu kok mirip dengan potongan rambutnya Scout Finch di versi film “To Kill a Mockingbird” ya?

Masa-masa indahku dengan Joyce memang baru dua hari lalu. Dan aku masih optimis akan masa depan pertemanan yang baru terjalin ini. Tapi tak seoptimis itu untuk yakin akan menyelesaikan “Ulysses” suatu hari nanti. Tampaknya sih aku tak perlu cemas jika “Ulysses” tidak akan bisa diselesaikan. Slate menerbitkan lagi satu artikel tentang penulis kontemporer yang belum pernah membaca atau belum menyelesaikan buku yang ‘patut’ dibaca. “Ulysses” dan “Moby Dick” sempat disebut beberapa kali (dua-duanya ada di lemari bukuku, entah dulu untuk alasan apa membelinya…). “Swann’s Way”-nya Proust juga disebut. Jadi lega. Dan, oh, ini satu lagi artikel ’serupa’ yang pernah diterbitkan Slate enam tahun lalu, tapi saat itu yang mengaku dosa adalah para peresensi di berbagai publikasi. Baca deh, pasti merasa lega :D

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Dari Emily Dickinson untuk Paris, Nicole, Lindsay, Britney…

Comments isyana — October 26, 2007 / 7:52 pm

Ada yang kecanduan dengan blog gosip? Ya, aku tahu. Maksudnya selain aku gitu..

Blog gosip atau blog yang ‘memantau’ keberadaan dan aktivitas para seleb Hollywood ini keberadaannya cukup tersebar di dunia maya. Dari mulai PerezHilton, TMZ , DListed, Egotastic, I Don’t Like You in That Way, I’m Not Obsessed, Pink is The New Blog, sampai Popsugar. Tapi yang jadi favoritku, yang tiap hari dikunjungi untuk ‘mengobati’ sakaw, adalah A Socialite’s Life. Sama pedasnya seperti Perez Hilton, tapi dengan gaya yang lebih kreatif dan tidak vulgar. Dan lebih lucu.

Ketenaran ternyata adalah hal yang membingungkan. Maksudnya, aku punya ketercanduan pada blog-blog gosip itu, yang beritanya tentang hal-hal trivial dalam kehidupan seorang ternama. Dan kehidupan mereka aku ikuti hanya karena mereka terkenal. Tapi ketika pemberitaan itu lagi-lagi jatuh pada gadis-gadis muda yang terlalu ekstrim bersenang-senang dan tidak bisa menghentikan dirinya sendiri dari…kerusakan yang ditimbulkan oleh dirinya sendiri–nama-namanya sudah aku sebut di atas–nah, itu saat aku menilai ketenaran sebagai sebuah kutukan.

Tapi, waktu menemukan puisi Emily Dickinson di bawah–dan upaya penerjemahannya ke bahasa Jawa–di sebuah milis, kok ya tiba-tiba jadi teringat sama Britney dan rombongan paparazzi yang setia mengikutinya ya? Terutama bait keduanya.

I ’M nobody! Who are you? Are you nobody, too? Then there ’s a pair of us—don’t tell! They ’d banish us, you know. How dreary to be somebody! How public, like a frog To tell your name the livelong day To an admiring bog!

Di rumah ada “The Complete Poems of Emily Dickinson” (Rp 5 ribu di penjualan buku bekas. Temuan ini masih sering dibangga-banggakan walaupun bukunya agak jarang dibuka-buka, sampai sekarang). Jarang dibuka karena otak yang tiba-tiba sering membangun sebuah tembok imajiner secara otomatis ketika berhadapan dengan bait-bait puisi.

Emily Dickinson, sejauh ini, adalah sosok misterius. Tapi aku sering menemukannya lewat pola yang sangat acak. Tiba-tiba muncul puisinya di sebuah dinding, atau dikutip di sebuah film yang sedang ditonton, disebut sebagai pengaruh gaya berpuisi seorang penyair muda Indonesia atau membaca bahwa karyanya diterjemahkan oleh Goenawan Mohamad masih SMA. Tapi aku tidak pernah menyangka, bahwa Dickinson yang hidup di abad 19 itu bisa menjadi komentator buat gaya hidup haus perhatian para selebritas Hollywood.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Identitas Baru Dumbledore

6 comments isyana — October 24, 2007 / 9:45 am

Sebuah seruan, “Oh, noooo!” dari deretan di seberang mejaku muncul Senin (22/10) pagi lalu. Lalu dilanjutkan dengan, “JK Rowling, how could youuuu?? Masa Dumbledore gay sih?” dan ada suara tiruan sesenggukan dari rekan sekantor. Sejak Rowling mengumumkan identitas seksual Dumbledore, diskusinya seperti memang belum berhenti. Atau mungkin masih jauh dari berhenti. Malah, Associated Press, seperti dikutip di situs msnbc.com, memungkinkan adanya makna-makna baru dalam teks Harry Potter yang sudah terbit. Salah satunya, seperti ditulis Rowling sendiri:

“Neither Dumbledore nor Grindelwald ever seems to have referred to this brief boyhood friendship in later life,”’ Rowling writes. “However, there can be no doubt that Dumbledore delayed, for some five years of turmoil, fatalities, and disappearances, his attack upon Gellert Grindelwald. Was it lingering affection for the man or fear of exposure as his once best friend that caused Dumbledore to hesitate?”

Pro dan kontra pasti ada. Tapi, sama seperti Rowling, aku memilih posisi untuk jadi ‘indifferent’. Martin Roberts dari Reuters menuliskan pernyataan Rowling:

“It has certainly never been news to me that a brave and brilliant man could love other men,” Rowling told a news conference in Toronto, where she is attending an authors’ festival….Rowling declined to say whether her “outing” of Dumbledore might alienate those who disapprove of homosexuality. “He is my character. He is what he is and I have the right to say what I say about him,” she said.

Kutipan yang akan aku amini.

Dan ketika si rekan sekantor menghibur diri dengan berkomentar, “Ya, tapi untunglah dia bukan pedofil”, aku berpendapat, “Wait, wait, wait. That’s two very different thing entirely. Tidak berhubungan sama sekali malah.” Bagaimana bisa kamu mengaku sebagai penggemar tapi tak memahami teks dengan baik? Maksudnya, memikirkan kemungkinan yang kedua dari sosok Dumbledore yang sangat terhormat, cerdas dan berani bisa dikategorikan sebuah penghujatan. It’s just unthinkable. Being gay is just being gay, itu bagian dari identitas seksualnya. Tapi being gay tidak sama dengan being a pedophile. Wow, itu lompatan yang sangat absurd dan jauh.

Sisanya, pendapat Melissa Anelli, webmaster situs penggemar The Leaky Cauldron, akan aku kutip sebagai penutup:

“Jo Rowling calling any Harry Potter character gay would make wonderful strides in tolerance toward homosexuality,” Melissa Anelli, webmaster of the fan site The Leaky Cauldron, told The Associated Press. “By dubbing someone so respected, so talented and so kind, as someone who just happens to be also homosexual, she’s reinforcing the idea that a person’s gayness is not something of which they should be ashamed.”

Wawancara lengkap dengan Rowling, yang sekarang bisa bicara bebas setelah menulis lengkap tujuh seri novel Harry Potter, bisa ditemukan di sini.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Bacaan Ringan

Comments isyana — October 18, 2007 / 7:10 pm

Setiap kali pemenang Nobel Sastra diumumkan, reaksi pertamaku selalu: “Sial. Kenapa sih aku belum mulai membaca karya-karyanya?” Tahun lalu, saat Orhan Pamuk diumumkan jadi pemenang, reaksi itulah yang kuberikan, pun sebelumnya lagi saat Harold Pinter dinyatakan sebagai pemenang. Tahun ini, di tengah ketiadaan koran karena libur Lebaran, dan membaca kabar penulis Doris Lessing adalah Nobel Laureate untuk 2007, reaksi pertamaku adalah: “Duh, kenapa ya aku selalu memutuskan untuk melewati namanya di lemari toko buku?”

Ah, well.

Nah, ini satu lagi berita yang datang saat libur Lebaran. Walaupun sampainya sudah agak terlambat. Penulis, feminis, teolog Marianne Katoppo, meninggal dunia. Aku berkenalan dengannya lewat “Raumanen” yang diterbitkan ulang oleh Metafor Publishing. Tapi perkenalan itu juga hanya sampai situ. Pas membaca obituari beliau, kok ya ternyata bisa sedih juga. Aku ternyata tidak menyadari magnitudo Marianne Katoppo. Yang akhirnya terpikirkan, kucing-kucing itu, diasuh siapa ya sekarang?

Walaupun bukan sosok literatti, aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk vokalis band punk-new wave, Blondie, Debbie Harry yang ke-62. Tanpanya, generasiku tak akan mengenal Gwen Stefani. Percaya deh, saat melihat aksi panggung Harry dulu, Gwen Stefani tak lebih dari sekedar peniru. Dan lewat Harry, kita juga bisa berkenalan dengan Patti Smith, musisi yang juga pujangga punk. Sastra bisa mengambil berbagai macam bentuk kan?

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Daftar Belanja dan Baca September 2007

Comments isyana — October 18, 2007 / 6:55 pm

Buku yang dibeli: 1. Wars Within: The Story of Tempo, an Independent Magazine in Soeharto’s Indonesia (ed.Indonesia)–Janet Steele 2. Pencuri Anggrek–Susan Orlean 3. Special Topics in Calamity Physics–Marisha Pessl 4. Lenny Bruce: How to Talk Dirty and Influence People–Lenny Bruce 5. Mysterious Affair at Styles (ed. Indonesia)–Agatha Christie 6. Iblis Tidak Pernah Mati–Seno Gumira Ajidarma 7. The French Connection–Robin Moore 8. The Egyptologists–Kingsley Amis & Robert Conquest 9. Raise High the Roofbeam Carpenters–JD Salinger 10. Kartun Riwayat Peradaban–Larry Gonick

Buku yang dibaca: 1. Wars Within: The Story of Tempo, an Independent Magazine in Soeharto’s Indonesia (ed.Indonesia)–Janet Steele 2. Special Topics in Calamity Physics–Marisha Pessl 3. On Beauty–Zadie Smith 4. Saman–Ayu Utami 5. Laskar Pelangi–Andrea Hirata (setengah selesai)

Dari mana tepatnya aku memulai; yang dibeli atau yang dibaca? Yang dibaca dulu sepertinya lebih mudah dijelaskan. Metode membacaku bulan ini sepertinya lebih pada keinginan untuk membuktikan sendiri kebenaran akan ‘hype’ yang dibangun mengelilingi reputasi sebuah buku.

Buku nomer dua sampai lima pada daftar yang dibaca punya banyak pendukung. Di jaket luarnya, lapisan bagian dalamnya, bahkan sampai beberapa lembar lapisan bagian dalamnya, penuh dengan ‘blurb’ atau komentar-komentar positif dari berbagai publikasi, tokoh sastra dan budaya, wartawan, peresensi, orang awam, direktur BUMN, sesama penulis, dst, hanya untuk meyakinkan pembaca untuk membeli dan membaca buku ini.

Aku punya sejenis alergi terhadap blurb sebenarnya. Bukan hanya untuk buku, tapi juga film, musik atau produk budaya lainnya. Jadi aku jarang sekali membaca atau menonton atau mendengar sesuatu yang tengah ramai dibicarakan pada saat itu juga. Tapi menunggu dulu sampai hype dan histerianya mereda, barulah produk itu dinikmati. Blurb, buatku, jika tak hati-hati digunakan, malah bisa meruntuhkan apa yang sudah susah-susah dibangun oleh penulisnya, buku itu sendiri. Dan apa pula gunanya sih, maksudnya, helloooo…kami kan pembaca cerdas yang punya standar estetika sendiri. Kenapa kami butuh orang lain untuk berkata, pada intinya, ‘BACA BUKU INI’?

Buatku, sevulgar itulah blurb berteriak. Tapi, seberapa jauh kebenaran blurb?

Dari studi kasusku–tanpa membaca blurb dengan detil, hanya sekedar scanning dan akhirnya menghitung jumlah–aku mengerti kenapa Marisha Pessl mendapat begitu banyak komentar positif. Karena karyanya memang benar-benar segar, kaya, unik, baru, dan jenaka sampai membuatku terbahak. Tapi aku tidak mengerti ketika ada yang mengatakan ‘On Beauty’ itu ‘wildly funny’. Dan funny itu bukan cuma satu, dua kali diulang, tapi lebih. Buku itu memang menarik dan penuh detil, tapi bukan sesuatu yang lucu.

Lalu, Saman. Membacanya di usia 15 atau 16 saat masih hijau, dan saat buku itu diposisikan sebagai Dentuman Besar dalam sastra Indonesia, hype memang masih pada taraf yang paling panas. Tapi sekarang, ketika membacanya lagi, pendapatku belum berubah. Karya itu malah terasa makin tajam. Bahasanya pun tak lekang dalam sepuluh tahun. Seperti karya-karya Salinger yang sudah lewat 50 tahun tapi bahasanya terasa segar dan lincah terus. Saman pun sama, menurutku. Mungkin asumsi ini harus dicek 20, 30, 40 sampai 50 tahun mendatang.

Aku mungkin tidak akan mulai membaca ‘Laskar Pelangi’ kalau tidak bertemu dan mendengar sendiri cerita penulisnya, Andrea Hirata. Aku punya seorang teman yang belum mau membaca buku itu hanya karena sudah terlalu banyak orang yang menyarankan untuk membaca buku itu. Yeah, the same thing goes for me. Maksudnya, selera adalah hal yang sangat personal. Ukuran nilai yang terbangun dari pengalaman-pengalaman hidup kita sendiri. Mungkin juga ada pengaruh nilai lingkungan di sekitar kita, tapi pada akhirnya selera adalah sesuatu yang tipikal diri kita. Yang ingin aku bilang, adalah, aku tidak percaya ada suatu ‘produk’ yang mampu mengena secara massal tapi tetap punya ‘jiwa’ di dalamnya. Jatuh-jatuhnya paling cuma mediokritas yang dilebih-lebihkan. ‘Laskar Pelangi’, aku takutkan, adalah mediokritas yang dilebih-lebihkan itu.

Ternyata, sial. Dari tiga bab pertama buku itu, aku selalu mengakhirinya dengan rasa tercekat di tenggorokan menahan air mata. Dan buku itu menyadarkanku lagi akan sesuatu yang hilang dari cara menulis penulis Indonesia; humor. Bukan humor yang asal konyol, asal gila, asal gokil, asal nggak beraturan pokoknya lucu, tapi humor lewat kata-kata subtil, tapi cukup membuat pembacanya sedikit tergelak. Atau terkikik. Terbahak-bahak juga boleh. Kenapa masih terhenti di tengah-tengah? Mungkin karena tak ada rasa penasaran tentang ‘akhir’ buku itu. Mungkin juga karena akhir-akhir ini aku lagi ingin membaca misteri-misteri whodunnit yang membuatku bisa terus-terusan menebak dan kembali ke buku itu. Atau mungkin karena gaya penulisannya yang sudah berhenti pada metaforik saja. Walaupun, harus diakui, metaforanya sangat kreatif.

Tentang ‘Wars Within’? Aku membeli buku itu selepas bertemu dengan penulisnya di peluncuran edisi Indonesia ‘Pencuri Anggrek (Orchid Thief)’ oleh Susan Orlean. Janet Steele, penulis Wars Within, waktu itu hadir sebagai salah satu pembicara karena ia mengajar jurnalisme sastrawi dan ‘Pencuri Anggrek’ ditulis dengan konsep dasar jurnalisme sastrawi itu. Sebagai pekerja di bidang media, terus terang, aku penasaran dengan perjalanan sebuah media bisa menjadi besar. Apakah setiap institusi dan orang-perorangnya mengalami kejadian dan masalah yang kurang lebih sama walaupun di masa yang berbeda? Dan setahuku, belum ada pembukuan dan penelitian yang rinci tentang perjalanan sebuah media di Indonesia jadi besar dan jadi ikon kelas menengahnya. Ada bab-bab statistik yang, yah mungkin relevan, tapi tidak membuatku tertarik. Yang membuatku tertarik? Ya tentu saja sisi gosipnya, hehe. Yang saling tuduh, katanya ini, katanya itu, yang cs-an sama siapa, intrik-intriknya, sisi politis dan persaingannya, who’s who-nya; intinya sih aspek selebritis dari buku itu. Lebih seru. Alasan utama membeli buku ini sih mungkin sama seperti saat aku membeli biografi Katharine Hepburn, atau jika suatu saat nanti membeli biografi seorang groupies band terkenal di 1960an. Akhirnya, sebuah buku yang cukup menghibur.

Dari daftar buku yang dibeli, dari nomor 4 sampai 9, itu dari Jogja Book Fair 2007. Buku nomor 4, 7, 8 dan 9 dibeli di kios Yusuf Agency seharga @ Rp 5 ribu. Buku nomor 5 dibeli karena judulnya dijadikan salah satu judul bab di “Special Topics in Calamity Physics” dan aku penasaran apakah Pessl mengambil inspirasi dari “Mysterious Affair…”. Nah, yang agak menyesal beli malah “Raise High the Roofbeam, Carpenters”-nya JD Salinger.

Aku sebenarnya sudah punya buku ini. Tapi aku membelinya karena nggak ada orang yang memedulikannya. Sudah aja, ditumpuk, seperti sudah siap dibakar. Akhirnya, karena kok memelas sih, jadinya aku ’selamatkan’. Tapi setelah membeli di halaman depannya, JD Salinger mempersembahkan buku ini pada para pembaca yang tipenya ‘read and run’, yang tidak terlalu serius mempertimbangkan buku bacaannya. “Kalau masih ada tipe pembaca seperti itu, maka buku ini saya persembahkan untuk anda, dibagi empat juga untuk istri dan anak-anak saya,” tulis Salinger.

Uggghh. Aku langsung merasa berdosa. Aku terlalu sombong untuk membiarkan buku itu tetap berada di tumpukan bersama buku-buku bekas lainnya. Terlalu sombong untuk membiarkan buku ini bertemu dengan pembaca ‘read and run’-nya. Aku jadi merasa bahwa buku ini cuma layak buat pembaca sepertiku. Salinger pasti tak mempermasalahkan siapa yang membaca bukunya. Atau pesan apa yang mereka dapat dari bukunya. Atau apakah pembacanya menikmatinya. Malah mungkin ia tak peduli apakah ada yang membaca bukunya atau tidak. Jadi apa yang aku lakukan, bermain Tuhan, dengan menentukan siapa yang ‘layak’ membaca Salinger atau tidak. Dengan membeli buku ini, aku jadi menutup kemungkinannya bertemu dengan orang yang akan membacanya. Kesalahan ini masih aku sesali sampai sekarang. Buku itu masih teronggok di tas plastiknya. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan dengannya. Menjualnya lagi? Tapi aku tidak mau mengambil keuntungan finansial dari Salinger. Memberikannya? Bisa saja. Mungkin aku harus meletakkannya di satu tempat secara sembarangan, biar siapa yang menemukannya dapat memilikinya.

Sampai ketemu di kolom ini bulan depan.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Prelude: Daftar Belanja dan Baca September 2007

Comments isyana — October 18, 2007 / 5:45 pm

Memang tak baik untuk bersandar pada adagium ‘There’s nothing new under the sun’ yang berfungsi sebagai pembenaran. Kita memang seharusnya mencipta hal-hal baru daripada sekedar meniru. Tapi jika yang ditiru adalah hal yang sangat sederhana seperti daftar belanja dan baca buku selama sebulan yang biasanya sering dilakukan para pembelanja dan pembaca, masih bisakah dibilang meniru?

Oke, oke. Ide utama memunculkan esai ini memang didasarkan dari kolom “Stuff I’ve Been Reading” yang ditulis Nick Hornby di majalah The Believer. Kumpulan kolom-kolom itu juga sudah dibukukan (dua kali, malah!) dengan judul “The Polysyllabic Spree” dan “Housekeeping vs The Dirt“. (Hmm, mungkin aku harus mengerjakan kolom ini menuju tujuan yang sama pula, dibukukan, applause menyemangati diri sendiri). Tapi, aku membayangkan, bukankah setiap pecandu buku menyimpan sejenis daftar yang sama, walaupun hanya ada di kepala mereka? (Aku juga pengen tahu sebenarnya, apakah banyak orang juga menjadi shopaholic buku ketika melihat toko buku baru, bekas dan online, seperti terjadi padaku).

Dengan mendaftar buku yang dibeli, sebenarnya tidak bermaksud pamer, malah maksudnya lebih mengaku dosa. Lewat ide ini juga, aku kembali menemukan ‘bentuk’ blog ini. Bahwa tempat ini adalah penyimpan catatan perjalanan seorang pembaca daripada resensi seorang kritikus profesional. Selain juga bahasan-bahasan kecil dari beberapa blog buku lain tentunya. Jadi sepertinya ke arah situlah blog ini menuju.

Untuk daftar belanja dan baca pertama, loncat ke entry berikutnya ya. Sengaja aku potong di sini biar tidak terlalu panjang. Selamat belanja dan membaca!

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL UPDATES

FEATURED POSTS

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

COMMENT

  • Yeni Kusmiati — Congratulation ya buat mba anindita Q juga ikut serta dalamlomba tersebut tapi mang masih amatir jadi q harus lebih banyak belajar ...
  • asy-syifa — PLIS... KASIH TAHU AKU YA... LOMBA NULISNYA...
  • asy-syifa — Assalamu'alaikum! Kalau ada lomba nulis... tolong kabari aku ya... writer_cute@yahoo.co.id tolong ya... aku tunggu loh... Wassalam!
  • leo — sabar ya, tapi sebaiknya benahi kesalahan minta maaf dan ada kabar tentang penundaan pengumuman atau lainya...!
  • Ichsan — Gembel bgd c ni lomba. Pengumuman aj ngaret. Pa lg hadiah dr sponsor. D tilep kalee.
  • Eranthy Firdaus — ah, hopeless banget nih nungguin pengumuman pemenang . kok kayaknya enggak profesional banget ya ?! seenggaknya kasih pemberitahuan keterlambatan pengumuman. biar ...
  • Silvi — terima kasih banyak atas archive sastra. Saya sempat kebingungan nyari cerpen Danarto di Jawa Pos "Bintang Bethlehem" karena di Jawa ...
  • rita — tetralogo laskar pelangi Keren Buanget. arai itu beneran ada?? kenapa baru muncul di SANG PEMIMPI ??? MARIYAMAH KARPOV kren abiz
  • manxini — ini lomba beneran ada g sih? dah lama banget belum ada pengumumannya??? apa ini penipuan??
  • uswatun arrozi — asslkm saya mahasiswa STAIN jember, apa saya boleh mengikuti lomba di kampus anda? tlog blz di e-mail saya